"Kring ... Kring ..." berdering dan hanya bergetar diatas meja ponsel hanya di biarkan begitu saja.
Sudah rapi berpakaian Tata sekarang terlihat makin cantik, tapi wajahnya menyimpan keraguan dalam hatinya tentang hubungan terlarangnya dengan Rakha.
"Kamu tidak jawab saja, Rakha? Berapa kali Almira menghubungi kamu," tersenyum manja dengan kecupan bibir setelah terpolesnya dengan halus sentuhan batang lipstik warna merah pekat.
Setelan tengktop merah muda dengan rok diatas paha makin terasa seksi tidak ingin berkedip lelaki yang memandang menawan gemulai seksinya Tata.
Putih mulus tubuh serta rambut pendek diatas bahu, terasa makin mempesona tebaran senyuman wajah Tata makin bikin Rakha makin ingin memaling dan menjauhkan kerinduan hatinya dari Almira.
"Aku makin bosan dengan Almira," mungkin itu yang ada dalam hatinya Rakha sampai terlontar yakin dengan ucapannya sudah berdiri dihadapan wanita selingkuhannya.
Lirikan senyum menawan makin memancing nafsu tertahan Rakha menatap makin yakin kecantikan Tata. Mereka berdua berdiri menyamping didepan cermin meja rias berbentuk oval.
"Berapa kali Rakha tidak menjawab telponku?" guman makin bingung Almira berjalan susuri lorong apartement mewah beralas karpet merah.
Kiri kanannya hanya ada pintu tertutup, antara ada didalam atau sedang keluar tenant berapa kali setiap pintu dilirik dua matanya Almira terasa berat langkah kakinya berjalan.
"Biasanya Rakha kalau ingin rest, biasanya dia kabari aku. Apalagi kalau dia ada disini?" guman lagi makin terasa berat langkah kedua kakinya Almira.
Padahal hanya berapa langkah lagi saja, dua kaki Almira sudah sampai mengajaknya didepan pintu unitnya, bernomor 221-5.
"Jangan kamu cerai'kan Almira. Dia wanita terbaikmu, Rakha." mungkin saja Tata sama memiliki perasaan hati yang sama dengan Almira bila di cerai'kan Rakha.
Tapi mungkin saja berbeda dengan perasaan Almira, mungkin akan murka bila tahu Tata sudah jadi selingkuhannya Rakha. Atau mungkin semua ini hanya siasat Tata saja yang tidak ingin Rakha bercerai dari Almira.
Hanya Tata yang tahu hatinya, tapi dilihat dari gestur raut wajahnya seperti ada tersimpan sesuatu yang terselubung dalam hatinya. Tidak tahu apa rencananya dengan perselingkuhan itu.
"Aku tahu kamu bosan dengan sikap Almira terhadapmu, Rakha. Tapi tidak seharusnya kamu cerai'kan Almira. Mungkin hanya perasaan kamu saja Rakha. Almira itu baik, dia tidak seburuk yang kamu sangkah'kan. Bertahanlah dulu, Rakha." sambil dua tangan Tata mendarat pada pada dada Rakha sedikit berbulu tipis.