Merindunya Rindu~Novel~

Herman Siem
Chapter #8

Petaka Makin Menjadi

Menahan sedih amarah bercampur aduk menghujam relung bahtin Almira, makin tidak kuasa melihat Tata terasa sengaja terduduk disamping Rakha tersenyum sinis melirik kearah luar mobil.

Dua tangannya mulai pegang kemudi setir mobil, tidak ada kata atau sesal dalam hatinya Rakha semakin sengaja membuat teriris sedih raut wajah Almira hanya berdiri di parkiran apartement mewah.

Jejeran mobil terparkir hanya jadi diam membisu serasa ikut sedih atau empati dengan keadaan Almira siang itu menjelang senja.

Dirinya hanya berdiri dengan dua matanya masih berbinar memerah menahan sedihnya perhatikan mobil sedan putih mulai menjauh meninggalkan dirinya.

Wajahnya di dongakkan keatas langit, mungkin hatinya menjerit sedih serasa baru terbangun dari lelap tidurnya panjang yang penuh sesal akan terbelengu dalam keabadian keseedihan.

"Sungguh nikmat karuniaMu, Ya Allah. Namun kenapa aku sebegitu bodohnya melupa'kanMu. Padahal aku tahu sebegitu rinduNya Engkau, sampai baru sekarang aku tersadar bangun dalam tidur panjang lelap kealpaanku selama ini padaMu, Ya Allah," guman dalam hati sedih Almira terasa dirinya makin terajang bersalah penuh dosa berkepanjangan.

"Sekian lama kereguk segala nikmatMu. Sekian lama itu juga aku melupa'kanmu. Kini Kau ketuk hatiku, dengan kenyataan pahit yang baru kurasa'kan sekarang. Begitu nistanya aku, Ya Allah padaMu. Setelah Kau ketuk hati ini dalam kesedihan dan begitunya Kau merindukanku. Baru kali ini aku mulai terdasar, bila aku begitu merindu'kanku selalu," makin sedih Almira tidak kuasa dirinya cepat membuka pintu mobil dan terduduk dibalik kemudi setir mobil suv merah tua.

Serpihan awan putih masih menghiasi menara apartement, kilauan cahaya sinar matahari semakin genit bermain centil pada setiap kaca unit aparetment dominan seluruh warnanya crem terang.

Berdiri megah apartement salah satu termegah di Jakarta, tampak bersih dengan landscape taman yang begitu elok indah menawan hati.

Sedih bercampur sesal makin berkutat mengusik relung kesadaran Almira, sangat dalam sekali pedal gas mobil ditekan kaki kanan. Sontak mobil meluncur berjalan cepat sekali susuri jalan Kota Jakarta, terasa tidak peduli dengan pengendara lainnya, sudah terlanjur sedih sesal bercampur marah membuat Almira terasa dirinya makin bersalah dimata Allah.

"Kamu jahat sekali, Rakha!" guman sedih marah Almira.

"Brug" sekali hentakan pukulan tangan kanannya memukul setir mobil.

Pedal gas makin dipijak kedalam dengan kaki kanannya, lirikan mata sinis Almira menyalip mobil yang didalam ada Rakha dengan terduduk disamping kirinya Tata. Seperti sedang kesetanan wajahnya Almira murka marah, setir sontak dibanting kekiri mobil.

"Sruttttt ..." suara benturan mobil.

"Almira ...! Gila kamu ...!" teriak bentak Rakha dalam dalam mobil.

Lihat selengkapnya