Merindunya Rindu~Novel~

Herman Siem
Chapter #9

Makin Tidak Merindukan Allah

"Tekanan darah tinggi Kakek kamu sangat tinggi sekali," terang Dokter kelihatan sekali raut wajahnya cemas bersembunyikan risau dari gelagat dua matanya perhatikan Rahman terbaring tidur bersebelahan dengan Nani.

"Tapi Dokter? Kakek'kan rutin minum obat darah tingginya hampir tiap hari," sahut Rindu cuman buat yakinkan dirinya saja walau ada rasa takut tersirat diraut wajahnya.

"Tekanan darah tinggi Kakek kamu sangat tinggi sekali dan bisa menimbulkan hipertensi. Yang saya khawatir'kan dengan Kakekmu hanya terjadinya stroke saja," terang Dokter setengah hati tidak merinci.

Mungkin Dokter karena tidak tega melihat keadaan Rindu juga kali ini pergelangan tangan kanannya sudah terpasang lagi selang infusan dan jarum tajam masih terpasung pada pergelangan tangan kanannya.

"Nenek kamu, dia hanya shock saja. Kami sudah beri'kan obat, semoga sebentar lagi Nenek kamu segera siuman," sekali tepukan tangan kanan Dokter mendarat pada bahu kanannya Rindu.

Terduduk lemas Rindu disopa, yang kini di hadapannya hanya terbaring tidur Kakek dan Nenek, yang selama ini sangat menyayangi sekali dirinya.

Masih setianya Oscar sudah berdiri dihadapan Rindu tersenyum sedih saat tangan kanannya Oscar menyodorkan segelas minuman kopi susu dingin.

"Minum dulu, Rindu." segelas plastik kopi susu dingin diambil tangan kanannya Rindu tersenyum saat Oscar duduk di sampingnya.

"Makasih Car. Kamu udah mau nemeninku," ucap Rindu bibirnya menyedot sedotan plastik terikut masuk cairan kopi susu dingin kedalam mulutnya.

Hanya anggukan senyuman Rindu saat Dokter beranjak jalan keluar sambil melempar senyuman juga padanya. "Kenapa semua ini terjadi padaku, Car?" kata Rindu sambil meletakan gelas plastik kopi susu kemeja.

"Kita berharap saja, Kakek dan Nenekmu baik-baik saja, Rindu. Apa yang terjadi sama mereka, semua ini adalah rahasia dan jalannya Allah. Kita semua tidak tahu, apa yang terjadi didunia ini. Terlebih dengan Kakek dan Nenekmu," jawab Oscar mencoba tenangkan hatinya Rindu.

"Kenapa Kau renggut kebahagianku, Ya Allah? Sama saja makin kesini, aku makin tidak ingin lagi merindukanmu, Ya Allah!" ketus guman lagi-lagi mulai datang ketidak yakinan Rindu pada Allah.

Lihat selengkapnya