Merindunya Rindu~Novel~

Herman Siem
Chapter #10

Perceraian Jalan Terbaik

Terjaga dari tidur Nani sempat dua mata masih kabur melirik samping kanan bangsal masih terbaring Rahman.

Di tegaskan lagi dua matanya sambil mengucek tegas melihat. "Ayah ...!" teriak Nani sudah terduduk diatas bangsal.

Cepat dua kakinya turun dari atas bangsal menyentuh lantai hanya bertelanjang kaki saja. Tidak jadi langkahnya Nani mengajak mendekati Rahman.

Malahan dua matanya perhatikan tetesan bercak darah dilantai.

"Oscar! Bangun Oscar. Mana Rindu?" pelan suara panggilan Nani terdengar Oscar terjaga bangun baru saja mau berdiri malahan dibuat bingung dengan bercak tetesan darah dilantai.

"Rindu?" guman Oscar melirik pintu kamar mandi terbuka.

"Bu?" suara pelan sengau Rahman terdengar Nani cepat mendekati.

Selimut putih masih menutupi setengah tubuhnya Rahman. Masih terasa pusing kepalanya, masih kabur penglihatan dua matanya perhatikan Oscar cepat lari kearah kamar mandi.

"Rindu mana, Bu?" dua kakinya Rahman sudah turun sambil bertanya pada Nani menahan pangkal paha tetap turun dari bangsal.

"Rindu ... Dimana kamu ...?" panggil rada kencang suara Rahman makin bingung melihat ceceran darah dilantai.

"Darah? Darah siapa itu, Bu?" makin bingung Rahman terpaksa dipapah jalan oleh Nani juga tidak tahu darah siapa berceceran dilantai.

Hijab putih hanya hangat terdiam dalam pelukan dekapan sedih penuh keprihatinan tersirat jelas diraut wajahnya Oscar.

"Kenapa Rindu melepas hijabnya," guman Oscar berdiri didepan cermin wastapel.

Sisa potongan rambut, jarum, perban dan ceceran darah masih ada dalam wastapel. Guratan keprihatinan Oscar makin meluap dari raut wajahnya.

"Rindu?" sontak berbalik belakangi cermin Oscar telat sembunyikan hijab dari penglihatan dua pasang mata Nenek Kakeknya, Rindu.

"Itu hijab milik Rindu?" langkah cepat Rahman mendekati dan merampas hijab putih dari dekapan Oscar.

"Tidak! Tidak Rindu ...! Rindu ...!!!" teriak intonasi suara tinggi Rahman terasa sesak dadanya dan terjatuh.

"Ayah! Ayah ...!" panik Nani cepat memeluk Rahman dua matanya masih terpejam.

Lihat selengkapnya