Muka masam disertai kesal makin mendesak yakin keputusannya Rakha untuk bercerai dari Almira. Hampir penuh satu tas koper dengan pakaian, sempat tercecer dasi biru tua cepat di sesepin kedalam tas kopernya.
"Aku mohon kasih kesempatan buatku, Rakha!" dua tangannya cepat menggerakan putaran roda, kursi roda makin mendekati Rakha sesaat wajahnya menatap sedih Almira.
Wajah dingin masam terkesan sinis sudah terkunci dengan keyakinannya ingin bercerai saja dari Almira. "Ini sudah keputusanku, Almira. Maaf!" singkat jawaban pasti Rakha menarik handle tas koper di bawahnya keluar dari dalam kamar.
"Rakha ... Rakha ... Jangan tinggal'kanku ... Aku tidak mau bercerai dari kamu ...!" teriak kesedihan awalnya melerai kepergian Rakha agar tidak jadi pergi meninggalkan Almira.
Hanya diam terduduk Almira pada kursi rodanya, dua matanya mulai berlinang memar memerah menahan rintik air mata.
"Jangan pergi tinggal'kan aku, Rakha. Beri aku kesempatan buat aku selalu mengganggapmu ada," makin kencang dua tangan Almira menggerakan putaran roda, semakin maju kursi roda.
"Rakha!" tangan kanannya menahan handle tas koper warna hitam.
"Jangan pergi Rakha," berbalik Rakha melirik Rahman sekarang ini sudah stroke. Seluruh setengah bangian tubuh kirinya tidak bisa di gerakan.
Hanya terduduk ingin berusaha bangun tidak bisa, ingin sekali dirinya melerai kepergian Rakha. Tapi berat rasanya buat berdiri, berapa kali malahan Rahman terjatuh duduk.
"Rak? Rakha ...!" paksakan mulutnya berbicara, walau bagian mulut kirinya menyok.
"Jangan pergi, Rakha." sambung Nani mendekati kursi roda lalu dua tangannya meraih dan mendorongnya maju kearah Rakha.
"Rindu. Tahan Ayahmu agar dia tidak pergi," hanya diam lewat saja Rindu saat Almira memohon padanya agar menghentikan niat Rakha akan pergi.
Makin tergurat sedih, makin tidak menerima teruntai dalam kesedihan Rahman melihat keadaan penampilan sekarang Rindu.