Merindunya Rindu~Novel~

Herman Siem
Chapter #16

Gelisah Berwujud Nyata

Terasa berat dua matanya untuk kembali terpejam, walau tangan kirinya sudah meletakan ponsel dimeja nakas. Terduduk hati terbebani gelisah makin nyata dan terwujud menyelimuti wajah Rakha, lirikan matanya menoleh pada kiri Tata terbaring tidur dalam selimut putih.

Masih meratap makin terbebani gelisah, sampai Rakha hanya terduduk diatas dipan saja. Dosa makin mencair seraya membasahi seluruh tubuhnya.

Hanya gegara dirinya cuman tidak dihargai sebagai seorang suami dari Almira. Membuat Rakha bersikap tegas ingin menceraikan Almira dan meninggalkan Rindu.

Nelangsa tentu menyerbu relung hati kecilnya Rakha, dengan baru saja mendapatkan kabar tentang keadaan Rindu sekarang.

Ditambah lagi perbuatannya kini makin mengular cairan dosa merasuk dalam urat nadinya makin cepat menjalar dosa makin membungkus rasa bersalahnya Rakha.

Padahal dirinya hanya menalak tiga Almira, belum sah secara negara dirinya menceraikan Almira. Tapi kenapa Rakha sudah tidur bersama dengan Tata, yang secara agama dan negara mereka belum sah jadi pasangan suami istri.

Tangan kanannya menahan wajahnya terasa banyak beban yang berkalung gelisah, lalu beranjak bangun dari duduk. Tapi malahan terduduk lagi diatas kursi menghadap Tata tertidur lelap, sesaat tersenyum lalu sedih.

"Kenapa saya melakukan perbuatan dosa ini?" guman dalam hati Rakha cepat beranjak bangun lalu keluar dari dalam kamar.

Mungkin saja otaknya Rakha tersambar malaikat pencabut nyawa, barangkali dirinya takut mati karena kebanyakan dosa. Tidak tahu mau kemana Rakha setelah dirinya membungkuk hanya untuk memakai dua sepatu kets hitamnya. Lalu setelah memakai jaket hitamnya, Rakha tidak jadi keluar padahal pintu sudah terbuka.

Rumah yang cukup besar, rumah miliknya Tata, sahabat baiknya Almira. Mungkin Tata tidak merasakan kesedihan yang di rasakan Almira berapa hari ini setelah dirinya merebut Rakha pelukan sahabatnya itu.

"Rakha?" sudah berdiri Tata dibelakang Rakha berbalik pelan.

"Kasih aku kesempatan buat untuk membuang kegelisaanku yang berapa hari ini kurasakan saat bersamamu," dua tangan Rakha sontak meraih dua tangan Tata terkecup lembut mendarat pada bibir tipisnya Rakha.

"Semakin berdosa aku terjerembab jatuh dalam kubangan dosa itu. Kegelisahan itu kini makin nyata, makin terasa melobangi hati ini yang awalnya aku yakin bisa bersamamu selalu, Ta." makin bingung Tata saat dua tangannya di lepaskan dua tangan Rakha tidak lagi mengecupnya.

"Aku hanya mau kamu tetap bersamaku, Rakha. Aku yakin bisa membuang rasa gelisah dan kecemasanmau itu menjadi nyata. Dengan nanti akan hadirnya anak buah cinta kita berdua. Dia akan terlahir kedunia ini buat menguras habis rasa gelisahmu itu jadi kerinduan yang selalu kau damba'kan," pelukan hangat Tata makin erat memeluk Rakha berdiri membelakangi.

Lihat selengkapnya