Merindunya Rindu~Novel~

Herman Siem
Chapter #17

Langkah Kaki Tidak Mau Pulang

Jalan tertatih menahan sakit dari belahan dua pangkal paha putih mulus, terasa teriris perih sesaat dua kakinya terbawah berjalan melangkah.

Jaket levis kepunyaan Oscar masih menyelimuti setengah atas bagian tubuhnya menghalau dingin dari angin malam.

Terhenti tidak kuat menahan sakit, bergetar dua kakinya Rindu makin tidak bisa menahan sakit. Wajah makin pucat tidak kuat menahan dingin, akan terjatuh karena tidak kuat menahan sakit cepat tangan kirinya meraih tembok beton pembatas jembatan.

Suara adzan subuh terdengar merdu menggemma membangunkan insan raga sempat terjaga dari lelap tidur malam hanya untuk kembali agar makin dekat dan selalu merindukanNya.

Gelap malam masih membayangi dua mata melihat besarnya kubah Masjid dari kejauhan, berdiri tegak lafal Allah beratap langit gelap penuh kedipan jutaan bintang sebentar lagi akan menepi beranjak pergi.

"Berat langkah kaki ini terasa tidak mau pulang. Apalagi kembali merindu'kanMu," guman tersenyum bercampur marah makin terasa menahan sakit dari balik pangkal paha putih mulusnya Rindu.

Sejak dari tadi cahaya sinar rembulan masih belum beranjak pergi, masih bermain diatas riaknya air permukaan Sungai Ciliwung. Rumah kecil dengan masih berpijarnya cahaya lampu masih menerangi tepian kiri kanan Sungai Ciliwung.

Lirikan matanya menjalar pada pijaran trafic light, yang sekarang terlihat lampu merah tapi tidak ada kendaaran yang terhenti menunggu lampu hijau. Hanya sepi, terasa sepi makin menelusuk hati kesedihan Rindu makin menyakitkan.

Jejeran deretan toko masih tertutup, mungkin sebentar lagi mulai bergeliat kehidupan siang saat itu Rindu berdiri ditepian pinggiran jembatan bersebrangan dengan salah satu pasar terpadat di Kota Jakarta.

Rindu hanya berdiri dibangunan belakang Pasar Mester Jatinegara, yang sebentar lagi akan terlihat denyut nadi hiruk pikuk keramaian transaksi jual beli.

Pasar Lama Jatinegara atau lebih dikenal dengan Pasar Mester, merupakan pusat ekonomi bagi warga Jatinegara. Pasar Lama Jatinegara mempunyai banyak deretan dan jejeran bangunan dimana dulunya dikenal dengan bangunan Belanda. Disekitar pasar tersebut juga terdapat pedagang-pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya mulai dari pukul tujuh pagi hingga pukul enam sore.

"Gua ngak akan pulang kerumah," keras hatinya Rindu padahal dirinya saja tidak tahu hendak kemana, apalagi saat itu masih terasa sakit di rasakan karena kehilangan kesuciannya yang terampas paksa oleh Sambudi.

Tapi terasa makin lemas dan tidak bisa terlalu lama dua kakinya menopang berdiri, sontak terjatuh Rindu tapi masih membandel ingin beranjak berdiri lagi.

Lihat selengkapnya