Merindunya Rindu~Novel~

Herman Siem
Chapter #21

Indah Menawan Hati Setu Babakan

Begitu tenang sekali riak air Setu Babakan, yang terletak tidak jauh dari hingar bingar Kota Jakarta. Tepatnya berada di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Hampir semua letupan riak permukaa kecil airnya terhampar dingin merasuk sembilu sanubari hati, saat dua tangan membasuh wajah.

Aneka bentuk perahu dan sepeda air menghiasi permukaan air yang genit nakal memantulkan cahaya sinar matahari semakin teduh.

Kepakan sayap burung terbang diatas permukaan riak tenang berapayung langit cerah namun sendu. Semua terkelilingi hijaunya pepohonan besar seraya memaku hempasan air dengan jutaan lilitan akar rumput pepohonan besar agar keindahan Setu Babakan tetap terjaga kelastariannya.

Sepasang mata sendu, dua kaki tidak mau beranjak pergi padahal hanya bertelanjang tidak memakai alas kaki. Hempasan kecil riak air berapa kali mencolek ujung jemari kaki mengundang terpancing senyuman.

Terasa indah menawan hati Setu Babakan, tapi tidak seindah senyumannya Rindu walau relung sukmanya melempar senyuman pada lukisan sempurna Sang Pencipta.

Seragam putih abu-abu dengan rok pendeknya, tentu juga seragam putihnya makin terlihat ketat seksi tidak di masukan kedalam rok birunya.

Setengah membungkuk badan Rindu dengan dua tangannya mengambil air, sesaat dua matanya berbinar berkaca-kaca seraya teringat sedang mengambil air wudhu.

Dalam dua telapak tangan setengah menguncup masih berenang air ingin sekali segera membasuh wajah Rindu, sontak dua matanya makin terpancing kerinduan apa yang pernah di lakukannya sebelum Sholat.

Kesejukan air Setu Babakan lantas membasuh wajahnya, makin terasa merasuk kedalam relung sukma bahtin semakin terasa ada kesejukan makin mendera makin memanggil jiwanya untuk kembali merindukan Allah.

Tas kecil masih menyelempang pada bahu kanannya, sontak segera terlempar ketepian, tidak tahu apa yang akan diperbuat. Makin lama kedua kakinya mengajak berjalan ketengah permukaan air, seragam makin terasa basah dan hanya terlihat setengah tubuhnya saja.

"Kenapa Kau hukum aku dalam pasungan kerinduanMu, Ya Allah? Kenapa hati ini ingin semakin dekat merindukanMu, tapi Kau buat aku semakin menjauh dariMu," guman sedih hanya terlihat kepalanya saja.

Hanya tinggal menenggelamkan kepalanya saja, Rindu mungkin tidak akan pernah terlihat lagi. Dan mungkin saja malaikat pencabut nyawa sekarang ini makin mendekati dirinya untuk pergi bersama kenereka.

Lihat selengkapnya