Merindunya Rindu~Novel~

Herman Siem
Chapter #22

Kesetiaan Menyayat Hati

"Rakha bangun!" sudah berapa kali tangan kanannya Tata terhentakan saat bangunkan Rakha tertidur pulas diatas dipan.

Rakha seraya masih terhanyut dalam impian lamunan tidurnya. Apa yang di mimpikan makin mengundang kecurigaan Tata wajahnya kelihatan masih bersabar berdiri disamping dipan.

"Aku terpakasa menghkianati persahabatanku dengan Almira, hanya hati ini sejak dari dulu sangat merindu'kanmu. Tapi kenapa sekarang kesetiaanku kau sayat, terasa makin teriris sakit menusuk relung hatiku," mungkin ada sesal makin melobangi kesetiaan Tata hanya bisa berguman sedih.

Begitu sabarnya Tata menunggu kapan terjaga bangun Rakha dari tidur, padahal dirinya makin kesiangan sudah janji dengan Dokter kandungan.

Lirikan matanya sekilas perhatikan jarum jam panjang pada angka lima, dan jarum kecil pada jam duabelas terkurung dalam bulatan arloji mini bermerk terkenal terbelenggu dalam pergelangan tangan kirinya Tata.

"Kasihan bayi ini. Dia selalu bergerak, pastinya dia sangat rindu sekali belaian Ayahnya," seraya pasrah Tata karena sudah siang tidak jadi periksakan kandungannya kedokter.

Tangan kirinya berapa kali mengusap perut buncitnya yang terbungkus dress merah muda lengan pendek. Celana panjang bahan kulot warna hitam serta sandal teplek hijau toska seakan membiarkan lelap tidurnya Rakha.

Dua kakinya mengajak keluar, tidak lantas wajah Tata diminta menoleh kearah Rakha. Kini Rakha makin lelap tidur, tidak adalagi yang akan bangunkan dirinya.

Hiasan kamar cukup terlalu mewah, banyak perabotan bermerk menata isi ruangan kamar tidur. Kenapa jadi berbeda sikap Rakha sebelum tinggal bersama Tata. Sebelumnya Rakha di kenalnya seorang pekerja keras, tapi sekarang ini malahan membuat Tata harus menahan extras kesabarannya.

Dua mata Rakha terbuka saat pintu kamar tertutup. "Aku tidak bisa bertahan diatas kesetiaan hati ini yang sebenarnya masih merindu'kan Almira. Semakin menyayat sakit hatiku, terpaksa mencintai Tata. Walau sebenarnya semua itu hanya pelarian kemarahaku saja pada Almira," guman Rakha terduduk diatas ranjang.

Tanpa disadari Tata nyatanya masih berada berdiri disamping kanan pintu mendengar jelas kegundahan hatinya Rakha.

"Nyatanya benar? Jika Rakha masih merindu'kan Almira," sedih bak hantaman beton kekecewaan yang runtuh merasuk nelangsa dadanya Tata beranjak jalan sedih meninggalkan pintu kamar.

"Kenapa hati ini berusaha menjauh, tapi semakin merindu?" dua mata Rakha seakan terkekang ingatannya pada Almira dan Rindu.

"Kamu sudah bikin malu sekolah ini, Rindu!" saking kesalnya hampir saja telunjuk jari tangan kanan Lukman mencolok mata Rindu hanya terduduk sedih.

Lihat selengkapnya