Rahman berjalan, walau kaki kanannya terseok-seok berusaha di tariknya berjalan tetap rasa kuat dua langkah kakinya ingin sekali mendekati Almira.
Siang itu terasa mulai membakar kerinduannya tersumbat dalam hatinya yang sekian kini mulai terasa merindukan Rindu walau belum membalasnya.
Walau hasratnya makin terasa yakin, bila sumbatan kerinduan yang mengakar dalam hatinya pasti akan melumer dengan keyakinan hatinya yang kian berharap.
"Al?" walau menyok mulutnya Rahman dua kakinya sudah berhasil mengajaknya berdiri dibelakang kursi roda.
"Ka, kamu? Sudah?" mulai sedikit lancar pertanyaan Rahman.
"Aku sudah Sholat Dzuhur, Yah." jawab Almira sembari dua tangannya putarkan roda kebelakang dan kursi roda sudah berhadapan dengan Rahman.
"Rindu?" sahut Rahman menanyakan Rindu.
Tersenyum langkah keluar Nani, kali ini raut wajahnya masih mulai ada senyumannya. Mungkin sekarang bahagia, karena resiko tekanan darah tinggi yang menyebabkan Rahman jadi stroke mulai berkurang dan berangsur mulai membaik.
Di dudukannya Rahman pada sopa, terasa nyaman duduknya Rahman tersenyum perhatikan Almira yang kini dirinya makin dekat pada Allah.
Dengan balutan hijab putih makin bikin cantik wajahnya, apalagi kilauan cahaya sinar matahari memantulkan cerah pada pada dress panjang warna putih.
"Rindu kenapa pulang sekolahnya cepat sekali?" sambil duduk Nani bertanya.
"Mungkin hari ini tidak banyak pelajaran kali, Bu." jawab Almira hatinya sembunyikan sesuatu.