Merindunya Rindu~Novel~

Herman Siem
Chapter #24

Sedih Berujung Rindu

Sisa bekas guratan pada dinding kamar mandi terjadi lagi makin tidak karuan warna cat putihnya, tersisa serpihan merah sisa ujung sikat gigi tercecer juga berenang dilantai kamar mandi bercanda dengan linangan genangan air.

Terduduk lemas setengah punggung bersandar pada dinding kamar mandi, pergelangan lengan tangan kiri makin banyak keluarkan darah segar sonatk menjuntai bebas turun bermain bercampur dengan serpihan ujung sikat gigi.

Masih berujung darah segar ujung sikat gigi masih tergenggam dalam tangan kanannya Rindu, dua matanya terasa berkaca-kaca sedih yakin bila kali ini malaikat pencabut nyawa akan benar datang menncabut nyawanya.

"Mungkin bagiku sekarang kesedihan yang berujung rindu itu tak'kan lagi datang menghampiri relung sukma ini akan segera berakhir tidak lagi merindu'kannya," tersenyum terasa makin lemas karena banyak darah makin banyak keluar dari pergelangan tangan kirinya.

Saking lemasnya banyak kehilangan darah lihat, tentu bikin penglihatan dua matanya masih terasa kabur. Dua mata terasa melihat bayangan hitam, mungkin dia pencabut nyawa yang ketika itu di lihatnya saat sedang berada di cafe Senja.

Bayangan dua mata Rindu makin merekam seram dalam penglihatannya, tampak bayangan seram tinggi dengan berjubah hitam wajahnya makin seram terlihat berdiri diantara pengunjung cafe sedang asyik melantai dengan alunan musik deejay.

Ada rasa ketakutan dalam penglihatan Rindu, saat banyak bayangan hitam tinggi berwajah seram. Bayangan hitam dalam penglihatan Rindu, mulai berdatangan menarik satu-persatu pengunjung cafe merintih kesakitan.

Ada kedua kakinya ditarik, ada yang dipecut sekujur tubuhnya dan ada yang terbakar seluruh tubuhnya sambil menahan kepanasan.

"Tidak ... Tidak ..." teriak kencang sekali Rindu sembari tangan kanannya melempar sikat gigi kesudut lantai.

Merontah dua kakinya seraya menendang dalam penglihatan dua matanya bila bayangan hitam tinggi berwajah seram tidak terlihat akan menarik dua kakinya.

"Nenek ..." teriak lagi Rindu makin dekat wajah seram bayangan tinggi mendekati wajah Rindu makin histeris ketakutan.

"Rindu?! Astagfirullahaladzim ...!" terkejut Nani cepat menarik menyeret dua tangan Rindu keluar dari dalam kamar mandi.

"Al! Almira ...!" teriak lagi makin panik Nani perhatikan sisa darah tercecer dilantai dan basahi pakaiannya Rindu.

Panik dan cemas makin menggurat pada wajah Nani terus menarik menyerert Rindu yang tidak sadarkan diri. "Rindu?" sontak saking ingin mememluk sampai terjatuh Almira dari kursi roda.

"Rindu? Rindu?" panik terucap dari mulut Almira coba membantu meanrik tangan kanan Rindu kedalam kamar.

"Al, coba kamu rangsang dan kamu panggil Rindu terus. Agar Rindu masih tetap sadar!" panik Nani segera mencari kunci mobil yang tidak tahu berada dimana.

"Rindu. Bangun Rindu," berapa kali panggilan dan belaian dua telepak tangan Almira mengusap wajah Rindu tetap tidak sadarkan diri.

"Astagfirullahaladzim ... Rindu?" terkejut dan jatuh Rahman dihadapan Rindu.

"Rindu bangun, nak. Rindu!" begitu juga Rahman terus merangsang memanggil Rindu.

Lihat selengkapnya