Merindunya Rindu~Novel~

Herman Siem
Chapter #25

Kembali Pada RinduNya

Tampak megah berdiri Masjid Agung Sunda Kelapa berpayung langit cerah, tidak berkubah seperti kebanyakan Masjid lainnya.

Masjid Agung Sunda Kelapa, dibangun atas prakarsa Ir. Gustaf Abbas pada tahun 1960, dengan desain interior dan eksterior Masjid dipenuhi dengan simbol-simbol fleksibel, tidak kaku dengan simbol kebanyakan Masjid pada umumnya.

Tak seperti Masjid kebanyakan lainnya, Masjid Agung Sunda Kelapa tidak memiliki kubah, bedug, bintang-bulan, dan sederet simbol yang biasa terdapat dalam sebuah Masjid. Menara yang ada pun sangat unik. Bentuk bangunannya mirip perahu, sebagai simbol pelabuhan Sunda Kelapa tempat saudagar muslim berdagang dan menyebarkan syariat Islam pada masa lalu.

Selain itu, bentuk perahu adalah makna simbolik kepasrahan seorang muslim. Bagaikan orang duduk bersila dengan tangan menengadah, berdoa mengharap rahmat dan kasih sayangNya.

Terduduk sedih setelah melaksanakan Sholat Dzuhur, Rakha hanya terdiam seraya dirinya terpasung dalam dosa besar dan siap dirinya teranjang api neraka.

Sekeliling dalam Masjid hanya hening, hanya kesendiriaan menemani dirinya berharap akan pengampunan dari Maha Penuh Pengampunan, yaitu Allah.

Matanya berkaca-kaca sedih, sempat terbendung tapi makin lama kian tidak tertahan. Tetesan demi tetesan rintik air mata, mulai basahi wajahnya makin berselimut dosa dan penyesalan.

"Terasa berdosanya saya, mungkin tidak pantas berharap pengampunan dariNya?" guman sedih Rakha.

"Kata siapa? Allah, tidak mengampuni segala dosa hambanya yang kini dia mulai kembali merinduNya?" berkopiah putih sudah terduduk disamping Rakha melirik Ko Ayung tersenyum sesaat dua matanya perhatikan lafah Allah berdiri tegak disela tengah lorong pendek dalam Masjid.

Lihat selengkapnya