"Loe?! Semua gara-gara loe, Sonya!" bantah balik tuduhan Sonya, kesal tidak terima dengan Sambudi menuding.
"Loe, juga'kan yang udah nidurin, Rindu?!" balik tuding Sonya makin meradang.
"Sudah! Sudah! Bisa diam kalian tidak!" geretan sudah kepalang marah Lukman beranjak bangun.
"Prak!" makin kesal telapak tangan kirinya sekali mendarat pada meja.
Terdiam ketakutan Arni dan Caty berdiri dibelakang kursi yang sedang diduduki Sambudi dan Sonya, mereka berdua tidak lagi saling menunding.
"Apa kalian berdua tidak punya rasa kasihan atau empati? Kalian berdua kenapa menjeblos'kan Rindu dan sampai menjebaknya juga? Tega! Tega bangat kalian berdua! Sampai Rindu sekarang hamil! Saya juga tidak bisa membantunya, saya terpaksa harus mengeluar'kan Rindu dari sekolah ini. Karena desakan Kepala Sekolah SMA Garuda Bangsa!" mungkin hanya itu yang dapat diperbuat Lukman, dirinya serba salah karena desakan Kepala Sekolah yang meminta dirinya segera mengeluarkan Rindu dari sekolah.
Lukman bergeser dirinya kesisi kanan meja, lirikan matanya sedikit silau dengan piala dan pelakat yang di raihnya sebagai guru teladan.
"Saya juga tidak bisa berbuat banyak pada kalian berdua! Dan kamu juga Caty, Arni! Kalian berempat terpaksa saya keluarkan juga dari sekolah ini!" mungkin ada rasa tega dalam hatinya Lukmna, tapi dirinya hanya menjalankan tugas saja.
Lukman beranjak jalan cepat keluar dari dalam ruangan, dibarengi Sambudi dan Sonya beranjak bangun akan mengejar Lukman sudah keburu keluar.
"Ahhhhh! Semua gara-gara loe!" telujuk tangan kanan Sambudi sudah didepan wajahnya Sonya.
"Loe! Kenapa loe sampai nidurin Rindu?!" hentakan tangan kanan Sonya pada telunjuk jarinya Sambudi meradang marah melirik Caty dan Arni.
"Loe, juga'kan yang nyebarain foto-fotonya Rindu saat lagi di cafe?!" tuding lagi Sambudi sontak berjalan keluar dari dalam ruangan.