Deraian air mata makin sembab basahi kecemasan dan kegelisahan wajah Almira masih terjaga duduk diatas kursi roda, menanti kerinduannya yang masih berjuang meyakini kerinduannya pada Sang Pemilik Raga.
Dua mata makin tidak bergeming makin menatap luar jalan, hanya kelihatan sepi membisu setiap aneka pepohonan yang tumbuh subur tertanam berwadah pot warna hitam.
Daun pepohonan menghijau, makin terada bahagia menari kecil saat terhempas semilir angin. Langit terasa ikut tersentuh sendu sedih, yang awalnya niat langit siang itu hanya terlihat cerah.
"Ya Allah, selamat'kan Rindu." guman sedih seraya memohon doa pada Allah dalam hatinya Almira.
"Almira," sudah berdiri Rahman dibelakang Almira.
"Yakin'kan saja pada Allah. Rindu akan selamat," kata Rahman jalannya masih terasa jingjet kanannya, mulut kirinya masih menyok.
"Aku takut, Yah. Bila Allah terlalu merindu'kan Rindu. Rindu akan?" terasa makin sedih, keputusaan berpintu makin meyakinkan mengutus rasa putus asa mengajak membuatnya yakin bila Rindu tidak akan selamat.
"Allah, tidak pernah mengambil kerinduan dalam darimu, Almira. Justru Allah, telah memberi'kan kerinduan yang tidak'kan pernah hilang lagi dalam rindumu, yaitu Rindu. Sekarang dan nanti beri'kan dia kerinduan yang selama ini di rindu'kannya, Rindu," tersenyum tapi hatinya tidak bisa berbohong, Rahman makin tersentuh perasaannya melihat keadaan Almira betapa dirinya sangat gelisah dengan Rindu.
"Assalam' mualaikum," tidak menjawab, dua wajah hanya terdiam seraya tidak bergeming walau ada getaran keharuan dalam hati mereka memaksa untuk membalas salam melihat kedatangan Rakha dengan sejuta perubahan yang kini ada dihadapan Rahman dan Almira.