Oscar memapah jalan Rindu, yang kini hijab putih telah membalut wajahnya lagi makin terlihat cantik. Makin tersenyum bahagia raut wajahnya Nani melihat kembalinya lagi Rindu, gerak kecil drees putih panjang tertiup angin.
Sinar cahaya rembulan malam mulai menerangi jagat semesta, kedipan jutaan bintang mulai bermain seraya memanjakan dua pasang mata yang ingin sekali menjadi bagian dari bintang kecil diatas langit.
Dari kejauhan tapi terlihat jelas oleh dua pasang mata, betapa mengajaknya ingin tersenyum haru ketika dua mata Rindu melihat kubah Masjid besar beratap langit penuh dengan taburan jutaan bintang.
"Aku pasti akan kembali merindu'kanNya," guman seraya mengajak tersenyum penuh keyakinan dalam hatinya Rindu akan kembali merindukan Allah.
Makin tersentuh sedih haru seraya ingin mengajak tetesan air matanya sempat terbendung tidak kuasa menghempaskan kuatnya bendungan air mata mulai terlihat deras menetes sedih.
"Kembalilah merindu'kanNya lagi, Rindu. Karena hanya Dia yang patut kamu rindu'kan," tersenyum haru derain tetesan air mata makin menyembabi wajah Nani terasa yakin, bila Rindu akan kembali merindukan Allah. Sebagaimana Allah pasti sangat merindukannya.
Tatapan haru dengan dua mata berkaca-kaca makin tidak terpejam sama sekali, seperti ada sesuatu yang menganjal dalam hatinya Oscar.
Ingin sekali bibirnya mengungkapkan sesuatu yang mesti akan membuat dirinya akan terasa menunggu jawaban Rindu bakalan menjawab dengan kerinduan dirinya pada Rindu.
"Rindu?" tersentak sedikit terkejut ketika dua tangan Rindu terpeluk dalam dua genggaman hangat telapak tangannya Oscar. Tapi mulutnya hanya terdiam, hanya tertatap dua mata sendu berharap apa yang akan di ungkapkan Oscar.
Terus hanya tersenyum Nani, mungkin dirinya hanya menjadi pendengar kabar bahagia yang akan membuat dirinya akan terkenang dalam kerinduan sepanjang masa hidupnya.