Nasib buruk datang tanpa pernah bisa ditebak. Layaknya roda yang terus berputar, masa-masa manusia berada di bawah tak dapat diprediksi. Kesuksesan, keberhasilan, dan hasil kerja keras secara tiba-tiba hancur berkeping-keping hanya karena manusia terlalu larut dalam kemegahan. Tindakan yang dirasa benar justru membawa malapetaka yang tak pernah menemui akhir.
1991
Seorang wanita dengan tinggi 153 cm duduk di kursi bis paling belakang. Sorot matanya hanya mengamati lalu lalang kendaraan yang melintas dari arah berlawanan. Sayup-sayup dia nyaris terlelap. Namun, lagi-lagi dia menepisnya sebab tak ingin terlewat selama perjalanan. Padahal, istirahat adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan olehnya. Sepanjang malam dia hanya terjaga dan memikirkan satu hal.
'Kenapa nasibku seperti ini?'
Pertanyaan yang seharusnya dapat terjawab malah tak menemukan benang merah. Dalam benaknya saat ini dia ingin pulang. Kembali ke tempat di mana dia lahir dan dibesarkan. Bertemu dengan tiga anaknya yang dia tinggalkan selama dua tahun ke belakang demi satu tujuan. Memperbaiki nasib. Keinginannya menjadi orang kaya sangatlah tinggi sehingga dia mampu mengorbankan segalanya tanpa banyak berpikir.
Sumedang. Perjalanan selama dua jam ditempuh membuahkan hasil. Makin dekat dengan rumah, tak tampak gurat kebahagiaan di wajahnya. Paras cantik itu berubah pucat pasi. Wanita itu berulang kali menelan liur. Dia memainkan jari-jemarinya terus menerus.
"Cilengkarang ... Cilengkrang!" seru kenek bus.
Wanita bernama Dwi turun dari bus. Barang bawaannya tak seberat beban di pundaknya saat ini. Jam sembilan malam, situasi di sekitar terpantau hening. Entakkan sepatu yang bergesekan dengan kerikil pun terdengar. Makin dekat menuju ke rumah, langkahnya kian perlahan. Dwi menahan tangisnya agar tak pecah. Meski dia tak tahu apa arti dari air mata yang mungkin dapat membanjiri kota.
Di halaman rumah berdinding hijau, seorang anak lelaki masih bermain di luar bersama dua anak lainnya. Samar di ujung gang temaram dia memperhatikan langkah kaki yang kian mendekat. Hingga tubuhnya keluar dari kegelapan dan tersenyum pada mereka.
"Mama!" panggil anak lelaki bernama Bayu, kemudian dua anak lain mengikutinya.
"Bayu, Irpan, Nur!" Dwi memeluk mereka, suasana pun menjadi haru biru.
"Neng!" teriak pria paruh baya dari teras.
Dwi kembali ke keluarganya. Dia merupakan single parent. Wanita 24 tahun itu menikah di usia 17. Anak pertamanya Bayu, disusul Irpan, dan Nur. Dia usia ke-22 tahun dia memutuskan untuk merantau ke Bandung. Dia pergi setelah resmi menjanda selama 11 bulan. Ketiga anaknya dititipkan kepada kakek dan neneknya, Bapak Oman dan Ibu Suti. Dwi memiliki satu adik perempuan bernama Annisa.