Keputusan sudah dibuat. Pak Oman tetap pada pendiriannya sekalipun dibujuk oleh Annisa dan istrinya. Dia ingin Dwi pergi dan jangan menginjakkan kaki ke rumah sampai bayi itu benar-benar tiada. Dia pun menuruti saran ibunya untuk menjauh sementara. Paling utama, jangan sampai para tetangga mengetahui aib yang dibawa Dwi ke lingkungan mereka. Cukup berhenti di mereka saja yang mendengar kabar buruk itu.
Semalaman Dwi hanya duduk di kamar anak-anaknya. Dia membelai wajah mereka dan membisikkan kata maaf berkali-kali. Dia menyesal karena harus pergi lagi. Padahal, mereka baru saja melepas rindu beberapa jam lalu. Akan tetapi, dia tak memiliki pilihan lain saat ini. Yang ada di benaknya, dia harus pulang secepatnya. Entah berapa lama dia dapat bertahan di jalanan tanpa uang yang cukup dan pekerjaan.
Acap kali dia mengingat semua peristiwa malang, bayi itu menjadi objek utama yang disalahkan. Janin tak berdosa menjadi sasaran bagi amarahnya. Dia bahkan sudah berencana untuk mempercepat kepulangannya ke rumah. Ibu Suti malam itu telah memberi sejumlah uang untuk Dwi gunakan. Uang itu adalah hasil kerja keras Dwi yang disisihkan sedikit demi sedikit olehnya.
"Ma." Suara Bayu memecah kesunyian malam.
"Bay." Dwi menyeka air matanya.
"Ieu baseuh ti mana ... Mama kunaon?" tanya anak itu, sambil mengelap bulir bening di wajahnya. (1)
"Bay, Mama kudu ka Bandung deui. Nitip Irpan jeung Nur, nya," ungkapnya. (2)
"Naha Mama angkat deui?" Suaranya nyaris serak. (3)
"Sssttt. Mama moal lami. Janji." Dwi mengecup kening anak sulungnya. (4)
Embusan napasnya begitu berat seperti ada seonggok batu yang menumpuk di dadanya. Masih ada tiga jam menuju azan Subuh. Namun, dia tak bisa terlelap. Dwi hanya memandangi jam dinding. Mengikuti ke mana jaruh merah bergerak dan berharap setiap detik dapat berlalu begitu cepat.
****