Dwi tiba di Bandung sekitar jam sembilan pagi. Ketika turun dari bis, keriuhan di terminal terjadi. Wanita itu mematung di sekitar lokasi tanpa arah dan tujuan. Hingga dia memikirkan tempat yang tiba-tiba tebersit begitu saja. Keputusan sesaat yang dapat membawanya pada dua hal: diterima dengan tangan terbuka atau ditolak mentah-mentah seperti yang sudah-sudah.
Dwi ingin bertemu Tubagus sekali lagi hanya untuk meminta pertanggung jawaban. Pria yang akrab di sapa Pak Bagus itu seorang anggota dewan dengan upah tinggi. Meski sudah memiliki keluarga, tetap saja beliau masih mencari daun muda untuk sekadar menjadi tempat melepas penat. Bukan rahasia umum jika kalangan-kalangan atas sering kedapatan "jajan" di luar.
Dwi sebenarnya bukan tipikal wanita seperti itu. Dia datang ke Bandung dengan niat mulia dan satu tujuan. Ketika memulai harinya di sebuah restoran, paras cantiknya menarik perhatian pengusaha di bidang tarik suara. Mempunyai sebuah orkestra, dia melihat potensi besar yang dimiliki Dwi kala itu. Tak butuh waktu lama hingga dia merekrutnya untuk menjadi salah satu penyanyi di orkes tunggal.
Di sinilah pertemuan antara Tubagus dan Dwi dimulai. Dia menjadi "simpanan pejabat" dan berhubungan dengan Bagus secara diam-diam. Berkat satu tindakan, apa pun yang Dwi inginkan pasti diberikan. Namun, bertanggung jawab untuk anak dalam kandungan. Menurut Pak Bagus hal itu berada di luar tanggungan.
Di kendaraan umum, Dwi berjanji ini terakhir kalinya dia menemui Tubagus. Pukul 11.35, dia tiba di depan rumah mewah dua lantai dengan cat emas dan putih.
"Pak, ada Pak Bagus?" tanya Dwi pada penjaga rumah.
Sorot mata pria tinggi tegap itu cukup menegaskan bagaimana penampilan Dwi yang mencuri perhatiannya, "Pak Bagus ..." Dari dalam terdengar bunyi klakson.
"To, jangan bilang Ibu kalo perempuan ini datang!" titahnya.
"Siap Juragan!" Anto bersikap hormat.
"Naik!" perintah Tubagus kepada Dwi.
Hatinya berbunga-bunga. Kedatangan ke rumahnya kali ini tidak berakhir sia-sia. Dalam benaknya dia menerka, Tubagus akan menikahinya meskipun secara siri. Tak apa baginya, selama lelaki itu mau bertanggung jawab. Akan tetapi, khayalan itu seketika runtuh ketika mobil kijang maroon tiba-tiba berhenti jauh setelah mereka meninggalkan rumah tersebut.
Plak!
Tamparan keras dilayangkan Tubagus pada wanita itu.
"Sudah saya katakan, kamu jangan ke rumah. Nyari mati kamu?!" Tubagus naik pitam.
"Kalo nggak gini mana mau kamu ketemu aku, Pak!" lawan Dwi.
"Apa ... apa mau kamu?" tanyanya.
"Ini anak kamu. Tanggung jawab. Nikahin aku!" Dwi menyentuh perutnya.