MERPATI YANG TERBANG TERLALU JAUH

Papp Tedd
Chapter #4

Chapter IV: Arah Yang Benar

"Yu, saha eta. Pakaian meni teu puguh kamana arahna jaba kucel?" bisik wanita bernama Utari. (1)

 

"Heh, ulah kitu, Yi. Istigfar. Keur hamil. Ulah asal beledag wae!" tegur sahabatnya, Rahayu. (2)

 

Dua wanita itu merupakan warga setempat, Rahayu dan Utari. Mereka baru pulang dari Bidan Ida usai Utari memeriksakan kandungannya. Ya, momen yang sangat sudah ditunggu-tunggu olehnya setelah menikah selama empat tahun. Usia pernikahan Rahayu dan suaminya lebih lama, yaitu enam tahun. Akan tetapi, Allah belum menitipkan anugerah itu kepadanya dan Permadi.

 

Mereka tidak mengenal wanita yang berdiri di depan rumah Bidan Ida. Hingga kemunculan Rani membuat suasana mencair sebab ingatan mereka terhadap mantan buruh pabrik itu masih melekat. Dia memperkenalkan Dwi sebagai orang yang akan menghuni kamar di kontrakan bekas miliknya. Sayang sekali ruangan itu sudah terisi. Namun, ada dua kamar lain di lantai bawah yang masih tersedia.

 

Sikap hangat dan ramah serta harga murah yang ditawarkan membuat Dwi setuju untuk menyewa kamar. Bidan Ida meminta kartu identitas untuk data, sedangkan Rahayu dan Utari pamit.

 

"Dwi Larasati. 24 tahun, Neng. Tos nikah gening? Caroge teu ngiring?" selidik Bidan Ida. (3)

 

"Hmm ... Kaleresan caroge abdi di Jakarta. Tapi, ngke oge kadieu da bade ngecek abdi," jawabnya. (4)

 

"Ohh, muhun atuh. Hayu kalebet. Urang tingal kamarna!" ajak Bidan Ida.


Bidan Ida merasa ada yang janggal. Dari mana dia tahu suaminya akan kemari. Padahal, ponsel saja kelihatannya Dwi tidak punya. Bidan Ida berpikir mungkin mereka berangkat bersama dari rumah. Namun, jika benar. Mengapa dia tidak ikut bersama suaminya saja? Batinnya berisik, tetapi dia menepis semua kecurigaan tersebut.

 

Rani mendampingi hingga prosesnya selesai. Wanita itu lantas pamit karena harus takut pulang terlalu malam. Bidan Ida pun memberi ruang untuk Dwi barangkali dia ingin beristirahat. Ada ranjang dan bantal, lemari, dan kamar mandi di dalam sebagai fasilitas kontrakan. Bak mandi menjadi tempat menampung air yang mengalir selama 24 jam.

 

Kini, dia seorang diri di kamar. Tanpa hiburan, tanpa kawan, dan tanpa siapa pun. Di balik kesendiriannya itu, dia kembali merenung. Masih terngiang penghinaan yang diungkapkan Tubagus kepadanya. Sakit hati yang tak terbendung dan tak terlampiaskan nyatanya justru memberi opsi lain. Dwi memukul perutnya, lagi. Dia tak segan meski merasa terguncang hebat.

 

"Kaluar ... kaluar ... kaluar haram jaddah!" Dia menekan-nekan perutnya.

 

Akan tetapi, cara itu tak membuahkan hasil. Yang tertinggal hanya rasa linu di bagian perutnya. Wanita itu merogoh saku untuk mencari obat-obatan yang dia beli. Tanpa keraguan sedikit pun, dia mengonsumsi obat dalam kondisi fit. Sesaat dia berhenti karena tak memiliki air minum. Dwi menaruh tasnya, kemudian keluar kamar. Di sekitar lokasi dia tak mendapati apa pun.

 

"Bu, ada warung atau kios di sini?" tanya Dwi.

 

Bidan Ida menghentikan rutinitasnya sejenak, "kaluar gang Neng, teras belok ka kanan aya kios di cakeut dinya. Tilu bumi saterasna aya nu icalan sangu manawi lapar bade meser sakantenan,” jelas Bidan Ida. (5)

 

"Hatur nuhun, Bu." (6)

Lihat selengkapnya