Satu Bulan Kehamilan
Dua minggu sudah Dwi menghuni kontrakan Bidan Ida. Tanpa pekerjaan dan uang pas-pasan dia merasa kesulitan. Untuk meminjam uang pun, kepada siapa. Satu-satunya cara agar dia dapat bertahan hidup yaitu mencari pekerjaan. Selain itu, janinnya masih bertahan. Berbagai cara untuk menyingkirkannya tak membuahkan hasil satu pun.
Dalam kondisi mental yang makin tertekan, dia menggigit bibir di ranjang. Di hadapannya, dia menatap sisa uang yang diberikan Bu Suti sebagai bekal. Siang itu, perutnya kembali lapar. Bukan segera mencari makanan, dia malah mengumpat. Janin di perutnya lagi-lagi menjadi kambing hitam atas keadaannya saat ini.
Bila uangnya diambil lagi, maka jumlahnya makin berkurang. Sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Kerusuhan yang terjadi di perut membuatnya menyerah. Dia akhirnya pergi ke warung nasi Rahayu. Meski bukan satu-satunya rumah makan, tempat Rahayu adalah yang terlaris di daerah tersebut.
Rahayu dibantu saudara-saudaranya--Wina dan Maryani--memasak seluruh hidangan. Cita rasa yang nikmat tersebar dengan cepat dari mulut ke mulut. Banyak pekerja pabrik dan pegawai di lokasi sekitar yang rela mengantre demi menikmati tiap menu berbeda yang disajikan di sana. Setiap harinya, warung nasi bisa memasak dua kali. Pagi dan sore hari.
Dwi mengamati dari kejauhan. Warung nasi itu tampak dipadati pengunjung. Wanita itu perlahan mendekat dan bergabung dalam antrean. Dia melihat Rahayu yang melakukan pelayanan secara cepat dan akurat. Meskipun dia merasa pemilik warung tampak kewalahan dan kelelahan. Dwi sengaja mendahulukan yang lain.
Dia sabar menanti sembari memantau menu di lemari kaca. Benar saja, ikan tongkol yang sangat ingin dinikmati ludes. Dwi harus mencari makanan lain.
"Eh si Neng. Padahal ka lebet we jadi seepeun," sapa Rahayu. (1)
"Ah, teu nanaon, Bu," katanya. (2)
Dwi berdiam diri di warung nasi lebih lama dari biasanya. Dia menunggu hingga keriuhan mereda dan orang-orang meninggalkan lokasi. Setelah sepi, wanita itu mendekati Rahayu dan duduk di sampingnya.
"Bu, manawi peryogi padamel abdi kersa damel didieu." Tanpa basa-basi Dwi mengajukan diri. (3)
"Hah." Rahayu tertegun, "Neng, saleresna mah cape damel di ibu mah. Ibu oge teu tiasa ngagaji ageung," ungkapnya. (4)
"Teu sawios, Bu. Da nu penting mah abdi tiasa bayar kontrakan," ujarnya. (5)
"Pami gaji memang teu sabaraha. Ngan, pami bade tuang mangga we nyandak sawaregna," kata Rahayu. (6)