Empat Bulan Kehamilan
Pepatah Sunda yang berbunyi, peuyeum jalma hese disumputkeun merajuk kepada satu hal. Keburukan seseorang yang sulit untuk ditutupi. Cepat atau lambat, aib dan keburukan akan segera diketahui orang lain. Kalimat itu bukan sekadar susunan kata-kata. Kini, Dwi berada di ambang jurang dan dapat tenggelam kapan saja.
Rencana awal tak sesuai dengan ekspektasinya. Berbagai cara mudah dilakukan agar dia mengalami keguguran. Dia ingin berbicara dengan Bidan Ida tentang menggugurkan kandungan. Dwi tidak memilki keberanian untuk itu. Hingga bayinya tetap bertahan dan tumbuh. Semua tergambar dari perutnya yang mulai menonjol. Akan tetapi, fenomena itu masih dapat ditutupi dengan istilah buncit. Walaupun tampaknya tak semua orang percaya.
Salah satu yang paling yakin akan pendapatnya yakni Bidan Ida. Pengalaman memang berbicara. Dia bisa tahu dan membedakan antara perut hamil dan buncit. Wanita itu tak dapat dibodohi oleh argumen Dwi yang menyebutkan; bahwa dia bekerja di warung nasi, sehingga banyak makanan yang dilahap tanpa kendali. Itulah alasan mengapa perutnya mengembung.
Pagi itu, Dwi masih terbaring di ranjang. Dia merasakan sesuatu bergerak dari dalam. Selama dibawa bekerja pun dia tak merasakan lelah karena kehamilan. Bayi itu tidak menjadi penghalang sama sekali bagi aktivitasnya. Dia pun sempat tak habis pikir. Bagaimana mungkin semua usahanya berakhir sia-sia.
Seolah dunia tidak mengizinkan dia pergi. Semesta menginginkan bayi itu untuk tumbuh hingga dia lahir. Dwi kesulitan mencari solusi agar kehamilannya itu tak diketahui orang lain. Setiap pulang bekerja dia mencari informasi tentang dukun beranak yang bersedia mengambil bayinya. Namun, dia tak pernah menemukannya. Dia pun kehabisan akal kini.
Dwi membuka lemari, lalu mengeluarkan semua pakaian yang tersisa. Satu per satu dia coba, hasilnya baju-baju itu terlalu ketat. Ada satu yang masih muat meskipun bulatnya perut tetap terlihat. Kemudian dia duduk di ranjang dan merenung. Dia enggan untuk pergi bekerja dengan keadaan seperti itu. Dwi takut dibanjiri banyak pertanyaan.
Baju-baju yang lebih longgar belum kering karena dicuci semalam. Usai bersembunyi di balik pakaian lebih lebar selama satu minggu ke belakang. Kini, dia harus menunjukkan itu di hadapan orang-orang. Jika tidak bekerja, dia cemas Rahayu akan datang ke kontrakan. Menyerah dengan keadaan, Dwi akhirnya bersiap-siap.
Pukul 07.18, Dwi keluar dari kamar. Di luar gerbang tampak Bidan Ida sedang membeli bubur untuk sarapan. Ketika melihat salah satu penghuni kamarnya, wanita berciput itu segera menghampiri walau Dwi mencoba untuk menghindar.
"Neng, bade ka mana tabuh sakieu. Neng naha teu nyarita ka ibu nuju eusi?" tanya Bidan Ida. (1)
"Bu, abdi sanes hamil. Ieu mah bucitreuk!" dalihnya. (2)
Bidan Ida meletakkan tangannya di perut Dwi, "ieu mah eusi, aya orokan. Sanes bucitreuk, Neng." Wanita itu menekan-nekan perutnya. (3)
Dwi sudah muak mendengar pertanyaan yang sama beberapa hari ini. Dia memutuskan untuk pergi bekerja. Dwi tinggal selama empat bulan dan mengais rezeki di rumah orang yang dihormati penduduk setempat. Warga sudah kenal siapa Rahayu Sukmawati.