MERPATI YANG TERBANG TERLALU JAUH

Papp Tedd
Chapter #7

Chapter VII: Solusi Tanpa Opsi

Tujuh Bulan Kehamilan

 

Hari-hari berlalu tanpa batas waktu. Begitu pun janin yang ada di rahim Dwi. Tumbuh meski ibunya sendiri berusaha menggugurkannya berkali-kali. Ketika memasuki bulan kelima, hal itu makin terpampang nyata. Dia tidak mempunyai pilihan selain mempertahankannya dan memanipulasi informasi jika ada seseorang yang bertanya.

 

Solusi terbaik yaitu menganggap bapak dari anak itu ada. Alibi terhadap warga setempat pun cukup berhasil. Lambat laun mereka menyimpulkan bahwa Dwi datang ke perantauan demi mencari uang untuk biaya persalinan. Kendati demikian masih ada orang-orang yang tidak percaya. Bagaimana bisa seorang suami mengizinkan istrinya bekerja di luar kota bahkan tanpa kehadiran dirinya.

 

Tidakkah dia mencemaskan istri dan anaknya yang jauh dari sanak saudara. Sebab sejak datang kemari pun mereka belum pernah bertemu dengan pria itu. Sampai-sampai Rahayu terus menanyakan setiap hari kapan suaminya akan datang. Masa-masa melahirkan tinggal menghitung waktu.

 

"Eh, Neng Dwi. Teu beurat eta mawa-mawa kendang?" tanya pelanggan pria yang hendak makan siang. (1)

 

"Ah, kumaha deui atuh da," tuturnya dengan lembut. (2)

 

"Sugan teh masih nyorangan. Eh geningan nu batur!" keluh buruh pabrik lainnya. (3)

 

"Sok putus harepan. Loba di pabrik ge pabalatak awewe mah!" timpal yang lainnya. (4)

 

"Mbung ah. Geus tarurun mesin!" Mereka tertawa bersama.

 

Rahayu ada di warung bersama Utari yang juga tengah dilanda kecemasan. Tinggal menunggu waktu anak pertamanya akan lahir. Rahayu tersenyum saat melihat sahabatnya dan Dwi membawa perut besar itu. Akan tetapi, jauh di dasar hatinya dia seperti berada di lautan kesedihan.

 

Keinginannya untuk bisa seperti mereka sangat besar. Satu hal penting yang belum dikabulkan Allah hingga hari ini. Rahayu ingin merasakan bagaimana susah payahnya mengandung seorang bayi. Merasakan mereka bergerak di dalam perut. Mengalami masa-masa ngidam yang terkadang memunculkan permintaan tidak masuk akal.

 

Rahayu ingin mendengar tangis bayi sepanjang hari. Dia dan Permadi bergantian merawat buah hati mereka. Menyaksikan anak-anak itu merangkak, berjalan, hingga memanggilnya dengan sebutan "Ibu". Perih rasanya bila mengingat semua keinginan-keinginan itu. Meski keyakinan akan terjawabnya doa masih ada. Sedikit keraguan terkadang hadir berusaha meruntuhkan jiwa yang optimis.

 

Dwi terkadang mendengar saat Rahayu mencurahkan isi hatinya kepada Utari. Di satu sisi dia turut bersedih akan kondisi pemilik warung itu. Namun, di sisi lain dia pun tak dapat membantu. Kebaikan Rahayu tidak mampu dia balas dengan tindakan serupa. Beberapa waktu lalu, sempat terpikir di benaknya untuk melakukan satu perbuatan terpuji.

Lihat selengkapnya