Pukul 03.10 dini hari, wanita itu tengah merasakan nyeri hebat. Di ranjang dia meringis sembari memegang perutnya. Masa-masa melahirkan Dwi akan segera berlangsung. Sejak jam tengah malam tadi sebenarnya dia sudah merasakan kontraksi. Namun, belum separah seperti saat ini. Air ketuban pun baru pecah beberapa menit lalu. Dwi tak mencoba meminta pertolongan. Dia ingin berusaha sendiri tanpa merepotkan siapa pun.
Malam itu, dia berusaha ke kamar mandi. Deru napasnya memburu seperti tengah dikejar pembunuh berantai di hutan belantara. Peluh memenuhi tubuh dan pakaiannya. Dwi berpijak perlahan-lahan mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk melahirkan bayi itu. Janin yang tak pernah dia duga dapat bertahan sampai waktunya tiba.
Dwi masuk ke kamar mandi perlahan. Dia bersandar di dinding sembari mengejan. Sakit. Ya, jangan pernah tanyakan bagaimana perasaannya malam itu. Dia tidak ingin menimbulkan keributan. Tetap saja. Sekalipun bibir mengatup, erangannya bisa terdengar di tengah keheningan. Wanita itu samar-samar memandang cahaya yang berasal dari lampu oranye.
Dia beristirahat sambil berpegangan pada sisi bak mandi. Dalam pikirannya, jika harus mati malam ini karena melahirkan anak itu, tak apalah. Setidaknya Tuhan tidak terlalu murka padanya sebab bayi itu tidak digugurkan. Dwi kembali mengejan. Dia berpegangan pada bak sisi bak berisi air penuh hingga sedikit demi sedikit menyiprat. Sakit yang tiada tertahan membuatnya menjerit sekencang mungkin. Keributan itu menarik perhatian Bidan Ida yang sedang salat malam.
"Pak ... Pak!" Dia membangunkan suaminya, Cipto.
"Pak, aya nu ngajerit!" katanya. (1)
"Di mana, keur ngimpi ibu mah!" Cipto berbicara dengan mata yang masih terpejam. (2)
"Aaa!" jerit Dwi, lelaki itu pun terbangun.
"Bu, eta sora awewe ngajerit?" tanya Cipto. (3)
"Nya, 'kan, teu salah dangu ibu mah!" (4)
Cipto memakai sarungnya, sedangkan Bidan Ida masih dibalut mukena putih. Mereka mengendap-endap dan menajamkan pendengaran. Erangan itu kembali mengisi keheningan. Mereka yakin suaranya berasal dari kamar Dwi.
"Neng ... Neng Dwi!" Cipto mengetuk pintu.
"Neng Dwi, buka!" panggil Bidan Ida.
"Duh, Pak. Ieu mah si Neng rek ngalahirkeun jigana!" (5)
"Neng, buka!" perintah Cipto.