Januari 1992
Kondisi bayi itu berangsur-angsur membaik. Sementara ibunya masih berbaring di ranjang. Dia menolak untuk berbicara dan makan. Hanya terlentang sembari memejamkan mata berpura-pura terlelap. Dia mampu mendengar suara Rahayu yang masih ada di rumah Bidan Ida. Air matanya tiba-tiba luruh. Namun, penyebabnya bukan karena sakit pasca persalinan.
Perasaannya campur aduk kini. Di satu sisi Dwi merasa gagal membunuh anak itu. Di lain sudut dia masih merasakan kesedihan. Hanya karena pria bernama Tubagus, hidupnya hancur. Dia menjadi pribadi yang jahat, pemarah, dan pendendam. Semuanya dia rasakan dalam waktu bersamaan. Setiap kali mendengar bayinya menangis dia pun ikut menitikkan air mata.
Keinginan untuk menggendong dan menyusuinya cukup besar. Namun, tiap kali Dwi memandang bayi yang mirip dengan Tubagus itu. Kelembutan, naluri keibuan, dan tanggung jawab seakan lenyap entah ke mana. Yang tersisa saat itu hanya satu. Dia tidak ingin bayi itu ada di hadapannya. Kebencian merasuk terlalu besar di jiwanya mengalahkan perjuangan sembilan bulan untuk mengandungnya.
"Neng." Bidan Ida mengetuk pintu, lalu masuk, "ibu ngadamel surat kalahiran. Bade dipasihan nami saha eta murangkalih teh?" tanyanya. (1)
"Teu nyaho," jawabnya. (2)
"Bade dilaporkeun ku ibu sakantenan ngademel akte!" bujuknya. (3)
Dwi duduk di ranjang. Dia merebut kertas itu dan merobeknya hingga menjadi puing-puing kecil. Bidan Ida mengernyit. Dia benar-benar tidak mengerti dengan perubahan drastis dari sikap wanita itu. Tiba-tiba dia menjadi serigala betina yang buas. Padahal, sebelumnya tidak pernah dia menunjukkan perilaku demikian.
Bidan Ida meninggalkannya tanpa sepatah kata pun. Dia duduk di teras bersama Rahayu yang masih diam di sana. Perilaku Dwi dia sampaikan pada wanita itu. Mereka memiliki pendapat serupa. Tidak mengerti. Perubahan sikapnya terlalu ekstrim dan tak masuk akal. Kecuali, ada sebab yang menyertainya.
"Bu Ayu, kudu aya nu nanya ka si Neng Dwi. Sagalana meh jelas," usulnya. (4)
"Moal ku Bu Bidan wae ditarosna?" tanyanya. (5)
"Ibu mah tos nawisan tuang, naroskeun nami kanggo budakna. Masih keneh teu diwaro. Coba ku Bu Ayu!" Bidan Ida menatap penuh harap.