MERPATI YANG TERBANG TERLALU JAUH

Papp Tedd
Chapter #10

Chapter X: Perjalanan Sebelum Ke Rumah

Satu minggu berlalu, kondisi Dwi berangsur-angsur membaik. Dia tidak tinggal di kontrakan lagi. Lima hari yang lalu Rahayu memboyong wanita itu ke rumahnya. Semua biaya baik uang sewa kamar Bidan Ida, biaya pengobatan pasca melahirkan, dan obat-obatan ditanggung oleh keluarga Permadi Hendrawan. Surat keterangan lahir dan akta pun dicantumkan nama Rahayu dan Permadi sebagai orang tua bayi itu.

 

Rahayu merasa harus mendampingi wanita itu bersama bayinya. Ada kekhawatiran mengingat sikap dan tindakan Dwi selama ini. Warung nasi sudah beroperasi seperti biasa. Hanya saja sementara ini dikelola oleh kakak dan adik-adik iparnya. Wina, Maryani, dan Ine diberi kepercayaan untuk menjalankan usaha tersebut selagi Rahayu fokus dengan Dwi dan bayinya.

 

Bayi itu kini telah memiliki nama yang secara khusus dibuat oleh Permadi. Pradipta Lazuardi. Anak itu sering dipanggil Dipta. Meski telah resmi menjadi putra Permadi dan Rahayu. Pembahasan mengenai Dwi dan bayinya masih menjadi topik hangat baru-baru ini. Warga setempat selalu mengutarakan pendapat mereka tentang anak itu. Asumsi liar pun bermunculan dan menyebar di kalangan luas.

 

Ada yang percaya bahwa Dwi merupakan wanita malam dan anak itu adalah hasil hubungan gelap. Ada pula yang berasumsi bahwa dia adalah wanita tanpa suami yang hamil di luar nikah. Status kawin di KTP-nya palsu. Yang lainnya pun berpendapat bahwa Dwi adalah perempuan simpanan yang tidak sengaja digunakan hingga berbadan dua. Semua asumsi mereka nyaris benar.

 

Namun, Dwi tak pernah menanggapi walaupun dia sendiri pernah mendengar saudari-saudari Rahayu membicarakannya. Baginya semua ini hanyalah sementara. Dia harus menahannya selagi masih dalam proses penyembuhan. Pagi itu, Rahayu membawa Dipta untuk dijemur di bawah mentari yang hangat. Utari yang baru melahirkan pun biasanya turut bergabung.

 

Setiap ada tetangga yang lewat dan menyapanya, Rahayu akan menyelipkan sebuah kalimat singkat dan cukup jelas.

 

"Anggap eta anak abdi lain anak sasaha." (1)

 

Pernyataan lain yang dikatakan olehnya, "ulah nyebut ngaran indung kandungna di hareupeun ieu budak." (2)

 

Dia melakukan itu agar Dipta kelak menganggapnya sebagai ibunya. Ibu satu-satunya yang ada dalam hidup anak itu. Kendati faktanya dia tidak lahir dari rahimnya. Dwi beberapa kali mendengar hal itu meski hanya sekilas. Ada perasaan di mana dia merasa terluka karena kehadirannya seperti tak pernah ada bagi Dipta.

 

"Yu, sehat budak teh?" tanya Utari. (3)

 

"Alhamdulillah. Daa pikiran urang mah moal salamet ieu budak teh, Yi," ucapnya. (4)

Lihat selengkapnya