Sesungguhnya Rahayu kecewa terhadap Dwi. Kepergiannya minggu lalu benar-benar tidak terprediksi. Semua barang miliknya tak ada yang tersisa. Selain itu, dia membiarkan pintu tidak terkunci sepanjang malam. Beruntung tak ada maling atau orang jahat yang masuk ke rumah. Hampir semua orang kini berbalik membencinya.
Dwi dianggap orang yang tidak tahu terima kasih. Para tetangga dan warga yang tahu kejadian itu siap menjadi garda terdepan untuk melindungi Dipta bila di masa depan ada keluarga Dwi yang berencana mengambilnya kembali. Berbicara tentang mengambil kembali, perasaan Rahayu sejak wanita itu pergi gusar bukan kepalang. Setiap detik rasanya dia sulit menemukan ketenangan.
Bahkan, orang-orang yang datang untuk makan di warung pun sempat diselidiki. Kecurigaan akan keluarga Dwi pun tak dapat ditepis lagi. Permadi telah meyakinkan istrinya bahwa Dipta akan bersama mereka untuk selamanya. Akan tetapi, pernyataan lewat bibir saja tidak cukup baginya. Rahayu membutuhkan sesuatu yang pasti dan bukti nyata jika bayi itu tak 'kan direnggut dari mereka.
Selembar akta dan surat kelahiran belum cukup. Satu minggu terasa begitu lama untuknya. Rahayu merasa harus membuat keputusan cepat dan akurat sebelum berakhir penyesalan.
"Yi, urang meni kapikiran wae. Kumaha lamun si Dipta urang pageuhkeun?" usul Rahayu. (1)
"Dipageuhkeun kumaha maksudna, da lain tali tambang si Dipta teh?" Utari mengernyit. (2)
"Lain kitu, Nyai. Maksud teh kudu aya perjanjian tertulis!" jelas Rahayu. (3)
"Kumaha carana, indit wae teu bebeja. Terus rek nyieun surat perjanjian. Ngarang kitu?" tanya Utari. (4)
"Heunteu. Urang langsung nepungan si Neng Dwi ka lemburna. Terus nyieun suratna diditu, kitu." Rahayu menjabarkan rencananya. (5)
"Hah, rek ka Sumedang. Teu eling boa didinya, Yu. Ieuh, Sumedang teh lain Cicaheum. Lega. Rek neangan di mana, ka mana? Manya rek aprak-aprakan diditu teu puguh tujuan?" tanya Utari. (6)
Rahayu bergeming. Sejenak kepalanya memikirkan ucapan Utari. Tiba-tiba Bidan Ida tebersit di benaknya. Setiap orang yang akan menghuni rumah kontrakan dimintai fotokopi identitas diri. Dia beranggapan bahwa Dwi pernah memberikannya. Tanpa berlama-lama dia pergi bersama Utari dan bayi-bayi mereka ke sana.
Tiba di rumah Bidan Ida, Rahayu langsung pada tujuannya. Dia menanyakan fotokopi identitas milik Dwi dan akan dipinjam bila diizinkan. Wanita berjilbab itu memang menaruhnya. Saat ingin memastikan tujuan Rahayu, dia terkejut. Saking sayangnya kepada anak itu, dia rela pergi ke sana hanya demi memastikan kondisi mereka. Padahal, ibunya saja sangat tak peduli terhadap anak itu.
Bidan Ida memberikannya, tetapi dia tak bisa ikut walaupun membantu persalinan Dwi. Praktik bidan tidak dapat ditinggalkan seenaknya. Rahayu memahami kondisi itu. Dia bersama Utari pulang untuk menentukan kapan mereka akan berangkat. Sejatinya lebih cepat lebih baik agar kegelisahan dan kekhawatiran Rahayu beserta keluarganya tidak terus membayangi mereka.