MERPATI YANG TERBANG TERLALU JAUH

Papp Tedd
Chapter #13

Chapter XIII: Khawatir Akan Kenyataan

Usai makan serabi, mereka melanjutkan perjalanan sesuai instruksi. Setiap bangunan mereka amati. Begitu pun warga setempat yang memandangi mereka dan menebak jika orang-orang ini bukan berasal dari Sumedang. Gang yang dimaksud terlihat. Dani bertanya kembali pada seseorang di warung untuk memastikan. Dia membenarkan rumah warna hijau yang merupakan tempat tinggal Dwi.

 

Satu-satunya bangunan hijau itu terlihat. Di halaman, Annisa sedang menyapu dedaunan kering dari pohon mangga yang jatuh tertiup angin. Di teras, Pak Oman tampak memegang secangkir kopi, lalu mengalihkan pandangan kepada empat orang yang mendekati rumahnya. Bu Suti berpapasan bersama mereka. Dia baru pulang dari warung membeli bahan masakan.

 

"Punten, Bu," sapa Dani. (1)

 

"Mangga." Bu Suti termangut. (2)

 

"Ieu leres bumina Teh Dwi?" tanya Dani. (3)

 

"Muhun, aya peryogi naon, nya?" Bu Suti mengernyit. (4)

 

"Tiasa pendak sareng Teh Dwi?" pinta Dani. (5)

 

Bu Suti memandang mereka secara bergantian. Bayi di pangkuan Utari dan Rahayu tak luput dari perhatiannya. Wanita itu mengajak mereka masuk meski tidak tahu apa tujuan orang-orang itu. Pak Oman menaruh cangkir di tangannya dan diminta Bu Suti masuk. Annisa membuntuti dari belakang karena rasa penasarannya yang tinggi.

 

"Sakedap." Bu Suti izin ke dapur. Pak Oman menemani mereka. (6)

 

"Eh, Dipta gugah," ucap Rahayu. (7)

 

Permadi dan Dani melihat-lihat figura di dinding. Mereka mengamati foto anak-anak yang tersenyum bersama Dwi dan seorang pria.

 

"Neng, aya tamu." Bu Suti menghampiri Dwi yang sedang mencuci piring.

 

"Tamu saha, Bu?" tanyanya, sembari mengeringkan tangan.

 

"Duka. Ka payun hela we!" suruhnya. (8)

 

Dwi tertegun melihat orang-orang Bandung tiba-tiba menyambangi rumahnya. Dia menelan liur. Wajahnya seketika pucat pasi setelah melihat Dipta di gendongan Rahayu. Pak Oman memintanya untuk bergabung bersama mereka. Langkahnya terasa berat sebab didominasi rasa takut pagi itu.

 

"Assalamualaikum. Hapunten pami ngawagel waktosna enjing keneh. Tepangkeun nami abdi Dani, ieu pun bojo Utari. Nu palih ditu Permadi sareng bojona, Rahayu." Dani memperkenalkan diri. (9)

 

"Aya naon saderek ieu sumping di bumi abdi?" tanya Pak Oman. (10)

Lihat selengkapnya