MERPATI YANG TERBANG TERLALU JAUH

Papp Tedd
Chapter #14

Chapter XIV: Kenyataan Dalam Keluarga

Hari demi hari berlalu, Dipta tumbuh menjadi anak yang sangat dicintai semua orang. Rahayu dan Permadi menjaga anak itu selama 24 jam. Memperlakukannya bagai putra mereka sendiri. Tiada keraguan untuk marah bila Dipta bersalah dan tiada batasan untuk mendidiknya agar menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti.

 

Kini, anak itu berusia lima tahun. Seisi rumah kadang dibuat heboh ketika Dipta berlarian ke sana kemari. Saudara-saudaranya pun rutin berkunjung untuk melihat kondisi anak itu. Bagi mereka masa lalunya sudah tidak penting lagi. Hal paling utama adalah mereka membawa kebahagiaan di tengah-tengah keluarga Permadi.

 

Pukul 08.00, Rahayu dibantu saudara-saudaranya menyiapkan masakan. Dipta dititipkan kepada Utari dan bermain bersama Fiona. Selama beberapa tahun ke belakang sejak mereka memiliki bayi itu, kehidupan mereka seolah meningkat. Perekonomian menanjak dan tentunya banyak perubahan terjadi di keluarga Permadi.

 

Dia mengganti mobil, merenovasi rumah dan warung, serta memiliki tabungan. Mereka meyakini bahwa Allah membantu memperbaiki perekonomian tersebut lewat Dipta. Bayi yang tidak pernah terpikirkan berada di rumah dan dirawat hingga sekarang. Rasa syukur pun tak henti-hentinya dipanjatkan atas semua pemberian-Nya.

 

"Teh, kira-kira si Teteh bakal boga anak moal?" tanya Maryani. (1)

 

"Teu hapal, kunaon kitu, Yan?" Wina menoleh. (2)

 

"Ningali ayeuna Teh Ayu maju terus loba harta. Kira-kira eta budak bakal jadi ahli waris?" selidik Maryani. (3)

 

"Emang rek ka saha deui mun lain ka eta budak?" Wina menatap heran. (4)

 

Rahayu merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Dia memiliki Asep sebagai kakak tertua, lalu Rudi dan Arman sebagai yang paling bungsu. Mereka turut bahagia atas kedatangan Dipta. Akan tetapi, orang-orang itu setiap hari berunding soal harta. Di antara mereka, Rahayu dan Permadi merupakan yang tersukses setelah wafatnya kedua orang tua.

 

Warisan dibagikan. Asep menghuni rumah sederhana. Sementara Rudi dan Arman kini mengontrak. Keduanya terlalu banyak berfoya-foya selama memiliki uang. Selain itu, usaha Asep baru gulung tikar dua tahun lalu. Mereka membutuhkan pasokan uang tambahan untuk menyambung hidup. Semua memiliki anak, kecuali Rahayu dan Permadi.

 

Mereka beranggapan bahwa Rahayu dan Permadi tak 'kan pernah bisa memiliki keturunan. Ketika mereka tiada maka harta benda miliknya dapat diurus dan dibagikan bersama-sama. Apalagi, mereka tahu bahwa Permadi baru saja menginvestasikan uangnya dengan membeli sebidang tanah minggu lalu. Tambahan bagi daftar warisan yang akan dibagikan kelak.

 

Kehadiran Dipta membuat kemungkinan itu mengerucut. Mereka merasa tak 'kan mendapatkan bagian apa pun dari peninggalan Rahayu. Ine dan Maryani menerima dukungan dari suami-suami mereka untuk mengorek informasi soal bagaimana nasib harta-harta itu nantinya. Sementara Wina memilih tidak ikut campur terhadap harta adik iparnya.

Lihat selengkapnya