MERPATI YANG TERBANG TERLALU JAUH

Papp Tedd
Chapter #15

Chapter XV: Keluargamu Bukan Kami

Anak-anak dalam masa tumbuh kembang mereka serba ingin tahu banyak hal. Apa yang ada di dunia ini seolah harus diurai satu per satu demi mengobati rasa penasaran mereka. Bermain di luar rasanya seperti petualangan baru. Bagi anak-anak kegiatan itu lebih menyenangkan daripada harus belajar dan terus belajar di rumah.

 

Berbicara tentang belajar, Dipta kini sudah duduk di bangku sekolah dasar. Nama wali yang tercatat untuknya sudah jelas, Rahayu dan Permadi. Meski demikian, beberapa orang tua yang satu angkatan dengannya merasa bahwa hal itu tidak sah. Sebab status Dipta sebatas anak angkat. Masuk telinga kanan keluar di telinga kiri. Seperti itulah respons Rahayu terhadap orang-orang yang sembarangan mengeluarkan opini mereka.

 

Dipta kini duduk di bangku kelas dua. Selain terkenal pintar dan cepat tanggap, dia dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul dan tidak pilih-pilih teman. Hari itu, sepulang sekolah dia bersama anak-anak di lingkungan setempat pergi ke lapangan untuk bermain bola. Di saat itu juga kadang Rahayu hanya mondar-mandir layaknya setrika.

 

"Yu, meni lieur urang ningalina. Bolak-balik, bolak-balik!" tegur Utari. (1)

 

"Hariwang, Yi, urang teh," imbuhnya. (2)

 

"Kunaon deui atuh, Nyai, Ya Allah!" Utari menggeleng. (3)

 

"Sieun aya nu mawa eta budak," tuturnya. (4)

 

"Yu, Geulis. Dangukeun. Budak teh geus umur dalapan taun ayeuna. Teu kudu loba di pikiran. Keun we ceunah ulin. Tong saban geureuh teuing!" sarannya. (5)

 

"Nya, ngan ..." (6)

 

"Geus. Tong sagala teuing di pikahariwang. Ieu mah teu robah adat teh tibaheula," ujarnya, "yeuh, nginum heula." Utari memberikan segelas air. (7)

 

Rahayu selalu berpikiran bahwa Dipta bisa diambil oleh siapa saja. Apalagi, identitas mengenai Tubagus yang sama sekali tidak diketahuinya membuat prasangka itu kian mendalam. Dia belum siap jika harus berpisah atau ditinggalkan oleh anaknya. Sampai kapan pun dia tak 'kan bisa terima.

 

Di lapangan, Dipta sedang duduk karena panas yang terik di siang bolong membuatnya lelah. Kemudian, datang anak-anak yang jauh lebih dewasa membawa sebuah kandang. Sangkar dua tingkat itu diisi oleh burung merpati. Kegiatan menerbangkan burung memanglah lumrah di lingkungan mereka.

 

Sejak pertama kali melihat merpati, Dipta sudah jatuh hati. Dia mengamati burung berwarna cokelat, warna abu dengan corak hitam, dan warna putih dengan bintik-bintik hitam di sekitarnya.

 

"Jang, apungkeun ieu tiditu." Anak itu memberikan merpati cokelat. (8)

 

"Moal kabur kitu?" tanyanya, dengan nada polos. (9)

 

"Moal atuh. Urang kelepek. Sok kaditu!" Dia meminta Dipta ke ujung lapangan sembari menyiapkan posisi merpati betina di tangannya. (10)

 

Anak itu mengajari Dipta cara memegang merpati. Selama membawa burung itu dia begitu semringah. Dia tiba di ujung lapangan.

 

"Lepaskeun!" titah anak itu.

 

Dipta melepaskan merpati itu. Sayapnya yang mengepak tampak begitu indah di matanya. Kegiatan itu dilakukan berulang kali. Setelah cukup lelah, Dipta beristirahat. Dia mengamati burung-burung itu dan sangat ingin memilikinya. Tak berselang lama, dia berlari dari lapang menuju ke rumahnya.

 

Lihat selengkapnya