Sejak Ine diberi peringatan oleh Rahayu, hubungan kakak dan adik ipar itu menjadi renggang. Mereka tak saling mengabari selama tiga tahun. Di warung makan, Rini menjadi karyawan baru yang menggantikan posisi Ine. Momen penting seperti Idul Fitri pun tidak cukup untuk mengakurkan kedua orang itu. Permadi dan Arman--suami Ine--berusaha menyatukan mereka. Namun, hasilnya nihil.
Usia Dipta kini bertambah. Lambat laun dia mengerti dan belajar banyak hal. Rahayu kian rajin memberi tahu siapa pun tanpa kecuali untuk lebih menjaga tutur kata mereka. Apalagi menyangkut status Dipta di masa lalu. Dia tak segan menegur dan memberi peringatan keras. Bahkan tak peduli jika harus memusuhi mereka yang mencoba membongkar siapa Dipta di hadapan anak itu.
Sore itu, warung ramai dipadati pembeli. Mereka rata-rata membeli lauk makan karena malas memasak. Para pengunjung melihat Dipta yang tampak anteng bersama dua merpati kesayangannya. Merpati bercorak hitam berwarna abu sering disebut warga dengan nama Megan. Dua hewan itu telah memiliki anak dan dirawat di lantai dua.
"Jang, geura tuang!" teriak Rahayu. (1)
"Sakedap deui, Bu!" jawab Dipta. (2)
"Kasep euy budak teh!" puji salah satu pengunjung. (3)
"Da lalaki atuh. Mun awewe geulis!" timpal Wina sembari menyiuk tempe orek. (4)
"Siga saha budak teh, Ceu? Asa teu asing katingalina. Pernah ningali di mana kitu!" Pria di samping menggaruk kepala yang tak gatal. (5)
"Saha atuh, mirip indung bapana we meureun!" celetuk Wina. (6)
"Pokokna mah eta weh. Eta sabrahaeun?" tanya pria itu. (7)
"Dua belas rebu," jawabnya. (8)
Setelah situasi lengang, Wina memikirkan ucapan pelanggan itu. Memang jika diamati wajah Dipta seperti seseorang yang pernah dilihat. Namun, entah di mana. Rahayu hanya bergeming ketika mendengar percakapan tersebut. Orang-orang itu tidak berbohong. Tidak ada kemiripan di antara Dipta baik dengannya maupun Permadi.
Rahayu seolah tak memiliki power untuk menangkis ucapan mereka. Dia pun terduduk lesu sembari menatap kosong. Pikirannya kini berkecamuk. Bagaimana bila Dipta kelak terdikstraksi oleh perkataan orang-orang. Lalu, dia mengamati ketidakmiripan di antara mereka. Jawaban apa yang harus diberikan jika Dipta menanyakan itu.
Rahayu terpejam. Kepalanya terasa berat sekali.
"Ibu ... Ibu!" panggil Dipta.
Rahayu terperenyak, "kunaon, Jang, labuh?" tanyanya sembari memeriksa satu per satu bagian tubuh Dipta. (9)
"Teu. Dipta teu labuh. Dipta lapar," pungkasnya. (10)