Dipta sudah masuk SMP kini. Dia duduk di bangku kelas delapan satu kelas bersama Fiona. Di sekolah dia mengikuti ekstrakulikuler keagamaan. Dua minggu lalu, Dipta baru meraih juara satu lomba MTQ. Sebuah prestasi yang membuat Rahayu dan Permadi sangat bangga. Di sekolah anak itu dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul dan cerdas.
Kehidupan yang dinikmati Dipta saat ini benar-benar baik. Rahayu pun semakin mengulur waktu untuk mengungkapkan masa lalunya. Mendapati putranya sudah memiliki akhlak yang baik, berprestasi, dan tumbuh menjadi pribadi hebat menimbulkan rasa khawatir dalam hatinya. Bagaimana jika hidupnya berubah setelah bertemu dengan Dwi dan keluarga aslinya.
Dia selalu mendiskusikan bersama Permadi mengenai kapan mereka akan membuka tabir kehidupan Dipta. Pria itu juga memiliki perasaan serupa. Dia memilih mengulur waktu. Menunggu hingga anak itu lebih dewasa dan mengerti situasinya. Kabar mengejutkan itu dirasa dapat mengguncang batinnya. Bahkan dapat memunculkan sisi lain yang tak pernah ditampilkan Dipta selama ini.
Malam ini, Permadi memiliki janji dengan bapak-bapak setempat untuk bermain bulutangkis seperti biasa di gedung serbaguna. Dipta belum pulang dari masjid. Dia kini membantu Ustaz Erlan untuk mengajar ngaji. Dia biasa pulang setelah salat Isya. Usai azan berkumandang, Permadi salat dan bersiap untuk berangkat. Dia membawa tas raket dan air minum.
"Pak, tong lami teuing," pesan Rahayu. (1)
"Biasa ge sajam, Bu," ujarnya. (2)
"Ah, sajam ti mana. Sok nangkring heula jeung bapak-bapak. Teng ... jam sapuluh karek mulang!" gerutunya. (3)
"Moal ayeuna mah. Bapak ge da rada capek. Hayang istirahat. Ieu mah teu raos we ka bapak-bapak tos ngondang!" (4)
Permadi berangkat. Sepuluh menit kemudian, Dipta pulang. Dia mengucap salam dan takzim pada ibunya, "Bu, bapak mana?" tanyanya.
"Biasa di gedung serbaguna. Teu pendak kitu tadi?" Rahayu menyiapkan camilan di meja. (5)
"Teu, Bu," jawabnya. (6)
"Gentos acukna. Ieu aya putu ayu." (7)
Camilan dari tepung berwarna hijau berbentuk bulat dengan taburan kelapa di atasnya adalah makanan kesukaan keluarga. Mereka menikmati rasa manis, gurih, dan legit dalam setiap gigitan sembari menyaksikan acara di televisi. Pukul 20.30, mereka menanti kepulangan Permadi. Lewat dari satu jam dan setidaknya membuat Rahayu sedikit kesal. Dia menyisakan dua kue untuk dimakan suaminya nanti.
"Bu Ayu ... Bu Ayu!" Suara panggilan dari luar membuat mereka panik.