Satu minggu pasca kematian Permadi, Rahayu lebih banyak diam. Sehari-hari diisi dengan duduk di sofa sembari merenung. Tatapannya kosong. Pikirannya mengawang-awang entah ke mana. Tak banyak makanan yang masuk ke perutnya. Bahkan, selama itu warung tutup sebab masih dalam suasana berkabung.
Utari dan saudara-saudaranya berusaha untuk menghibur atau mengajaknya bicara. Namun, respons yang dia berikan tidak seperti biasanya. Beberapa hari lalu, Rahayu sempat dihubungi oleh seseorang. Dia turut berduka cita atas kepergian Permadi. Pria itu berjanji akan datang di hari ini untuk membahas sesuatu yang sangat penting terkait masa depan Dipta.
Sepanjang hidupnya Permadi merahasiakan hal itu dari anak dan istrinya. Diam-diam dia menemui Toni Soemarsono, rekan semasa sekolah sekaligus seorang notaris. Toni menghubungi ke rumah karena tidak ada kabar dari almarhum selama tiga hari. Kematian mendadak itu jelas membuatnya syok. Terlebih rencana-rencana yang disiapkan bersamanya belum sepenuhnya rampung.
Permadi membuat surat wasiat di mana dia mewariskan semua aset kepada istrinya untuk dikelola. Kekayaan-kekayaan tersebut rencananya akan dirundingkan kembali bersama Rahayu. Bila keduanya telah tiada, mereka memiliki dua opsi. Mengibahkan kepada saudara-saudaranya atau memberikan kuasa penuh untuk Dipta.
Sebelum hal itu terealisasikan, mereka menunggu sampai Dipta cukup dewasa. Akan tetapi, takdir berkata lain. Kini, Rahayu yang harus menyelesaikan semuanya. Bisa saja, Permadi dan Rahayu membuat keputusan tergesa-gesa dengan mewariskan hartanya kepada anak angkat mereka. Namun, mereka ragu. Ada kekhawatiran terkait Dipta yang mungkin tak 'kan kembali setelah pulang ke keluarganya.
Bila keraguan itu terbukti, ahli waris tak 'kan bisa ditarik lagi. Mereka memilih untuk memastikan sampai Dipta benar-benar tidak mau kembali lagi ke sana dengan alasan apa pun. Sepeser pun dia tidak ridho jika anaknya memberikan hasil jerih payah mereka kepada Dwi dan keluarganya. Itu adalah imbas dari perbuatannya di masa lalu.
"Yu, aya tamu," kata Utari.
"Saha, Yi?" tanyanya dengan lirih.
"Toni."
Rahayu seketika bangkit dari sofa ketika mendengar nama tersebut. Dia meminta tolong kepada Utari agar menyuruhnya masuk. Lelaki bercambang itu duduk bersama mereka. Rahayu memohon agar sahabatnya tidak pergi ke mana pun. Dia akan menjadi saksi mengenai pernyataan Toni. Sebelum memulai, pria itu memastikan bahwa di rumah hanya ada mereka agar lebih aman.
Berkas-berkas pun dikeluarkan satu per satu. Aset-aset milik Permadi yang telah ditandatangani sebelumnya. Di sana dia menyerahkan kuasa penuh kepada Rahayu. Kemudian, di bawah ada pertanyaan yang menyatakan kesiapan Rahayu untuk mengalihkan warisan jika kelak dia tiada. Belum ada nama siapa pun di kertas itu sekalipun Dipta.
Toni memberikan berkas itu, tetapi Rahayu memintanya untuk menjaga dengan baik semua dokumen. Rahayu mengajukan sesuatu kepada pria itu sebelum kelak dia mengisi nama ahli waris yang akan dicantumkan. Usai berbincang, ptia itu pamit.
"Bu, sakali deui abdi ngahaturkeun belasungkawa kanggo Pak Permadi. Atuh almarhum sing ditampi iman islamna, dicaangkeun di liang kuburna, dihapunten sagala kalepatan sareng dosa-dosana. Aamiin!" harapnya. (1)