MERPATI YANG TERBANG TERLALU JAUH

Papp Tedd
Chapter #19

Chapter XIX: Misteri Yang Tersimpan

Dipta sebentar lagi lulus SMK. Rahayu berencana untuk menyekolahkan anaknya ke SMA kala itu agar dia dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Wanita itu ingin dia meraih gelar sarjana. Namun, ketika lulus SMP anak itu bersikeras bahwa dia tidak ingin kuliah. Alasannya, biaya terlalu mahal untuk itu.

 

Meski Rahayu tak merasa keberatan, Dipta tetap tidak mau kuliah dan memutuskan untuk masuk ke SMK jurusan teknik informatika. Alasan utama dia tak ingin kuliah bukan karena biaya. Ada hal penting dan lebih besar yang dia renungkan. Paman-pamannya baik itu Asep, Rudi, dan Arman selalu membahas sesuatu yang dia tidak pahami sejak beberapa tahun ke belakang.

 

Arman pernah berkata bahwa Dipta terlalu banyak menghabiskan uang Rahayu meskipun bukan kewajiban wanita itu untuk membiayainya. Adapun Rudi yang membahas soal Kota Sumedang di mana dia seharusnya tinggal di sana. Akan tetapi, perkataan buruk tidak berhenti di situ. Asep adalah orang yang paling vokal dan berani ketika sudah buka mulut.

 

Dia menyinggung soal bayi yang diselamatkan dari bak mandi. Anak itu seharusnya tak pernah hidup dan ada di dunia ini. Asep secara terang-terangan menyebut bahwa Dipta tidak lahir dari rahim Rahayu. Sebagai anak yang kini beranjak remaja dia mulai memproses setiap ucapan orang. Namun, dia tak berani menanyakan pada Rahayu.

 

Dipta sempat menanyakan pada Utari mengenai hal itu. Namun, wanita itu menyangkal semua ucapan yang terlontar dari saudara-saudaranya. Dia menegaskan sampai kapan pun Dipta tetaplah anak Rahayu dan tidak ada yang bisa mengubahnya. Sesekali, dia terkadang merenung dan memanggil Fiona bila apa yang dihadapi terlalu berat.

 

"Fiona," sapa Dipta.

 

"Dip, keur naon di teras?" tanyanya, sembari melangkah ke arahnya. (1)

 

"Biasa," keluhnya.

 

"Mang Asep ngomong naon deui?" tanya Fiona. (2)

 

"Lain Mang Asep ... Mang Arman tadi kadieu ngajemput Bi Ine. Terus ..." Dipta menunduk. (3)

 

"Terus, kumaha?" Rasa penasarannya mulai mencuat. (4)

 

"Ceuk Mang Arman urang titah buru-buru digawe. Kudu mulang tarima kanu lain deungeun lain baraya," ungkapnya. (5)

 

"Hah, naon maksudna?" Fiona mengernyit. (6)

 

"Maksudna teh urang lain sasaha di keluarga ieu ... meureun." Dipta menghela napas kasar. (7)

Lihat selengkapnya