MERPATI YANG TERBANG TERLALU JAUH

Papp Tedd
Chapter #20

Chapter XX: Tersimpan Di Memori

Usia Dipta kini menginjak 22 tahun. Beberapa bulan usai lulus SMK, dia diterima di salah satu perusahaan provider dengan jumlah pelanggan terbesar di Indonesia. Dipta menjadi karyawan terbaik dan sering mendapat ulasan positif. Di balik usianya yang telah beranjak dewasa, Rahayu pun demikian.

 

Dia merasa masa-masa hidupnya hampir habis. Kondisi kesehatannya kian menurun. Sejak bekerja, Dipta bertanggung jawab penuh terhadap ibunya itu. Warung nasi yang merupakan usahanya telah dihentikan sejak satu tahun lalu. Area depan telah disewakan pada pedagang yang bersedia menempatinya. Pagi hari diisi oleh Bu Wati yang berjualan nasi kuning, sedangkan sore hingga tengah malam Pak Andi memulai usaha nasi gorengnya.

 

Selama tujuh atau delapan tahun, Rahayu menyiapkan mentalnya. Semua yang dialami oleh Dipta di tahun 90-an masih melekat jelas di memorinya. Dia menyimpannya dengan baik tanpa melupakan detail sekecil apa pun. Esok hari adalah ulang tahun Dipta. Tanpa bermaksud mengacaukan hari bahagia itu, Rahayu ingin mengungkapkan semuanya. Utari mendukung keputusan tersebut.

 

Rahayu berada di kamar anaknya sore itu. Dia mengamati barang-barang Dipta. Di nakas, terpajang fotonya yang sedang digendong Rahayu dan Permadi. Senyum merekah yang mencerahkan dunia mereka terpampang nyata. Wanita itu duduk perlahan sembari menyentuh seprai dengan lembut. Aroma parfum Dipta menguar di ruangan itu. Dia mengambil figura dan mendekapnya erat-erat.

 

"Assalamualaikum, Bu!" panggil Dipta.

 

Pemuda itu lantas masuk ke ruangannya. Dia mendapati Rahayu yang tengah terisak.

 

"Bu." Dipta takzim, "kunaon, Bu?" tanyanya, khawatir. (1)

 

"Teu nanaon. Ibu ngan sedih. Teu nyangka Dipta ayeuna jangkung, kasep, boga pagawean alus. Teu sangka ibu mah!" Tangisnya pecah. (2)

 

Dipta memeluknya, "Bu, Dipta teh bisa siga ayeuna pan didikan Ibu jeung Bapak atuh. Mun teu ku ibu bapak mah rek jadi naon Dipta," ungkapnya. (3)

 

"Jang. Jangji ka ibu tong jadi ambeuk, jadi teu nyaah mun aya nanaon, nya," imbuh Rahayu. (4)

 

Dipta berusaha mencerna perkataan ibunya. Dia pun mengalihkan perhatian dengan mengajak Rahayu ke ruang tamu. Sementara wanita itu menonton televisi, Dipta menyiapkan makanan. Dia memasak nasi dan mulai mencari bahan makanan di kulkas. Pria itu bukan sembarangan lelaki kini. Didikan orang tuanya benar-benar melekat dan berguna baginya di masa sekarang.

 

Sebuah pelajaran demi bertahan hidup di masa depan. Dipta tidak bergantung kepada orang lain dan melakukan segalanya sendiri. Fiona menyebut pria itu terlalu mandiri karena pernah berkata tak membutuhkan pendamping. Namun, di hadapan Rahayu dia tetaplah harimau yang terkadang ingin manja pada induknya.

 

****

 

Lihat selengkapnya