Hari yang dinanti-nanti tiba. Sejak Dipta menitipkan Rahayu kepadanya, Asep tampak ceria. Wajah dan sikapnya bak mendapat uang dari judi online sebesar 100 juta. Respons lain juga ditunjukkan Arman dan Rudi. Mereka merasa inilah buah dari kesabaran selama ini. Dipta diminta pergi tanpa membawa harta benda apa pun untuk kembali ke keluarganya. Tiada halangan lagi untuk menikmati aset-aset Rahayu kelak.
Mereka datang pagi-pagi sekali untuk menemui Rahayu. Dipta tampak bersiap-siap dan tidak membawa barang apa pun sesuai instruksi orang tuanya. Dia hanya membawa tas berisi dokumen yang dilipat dan ponsel. Uang pun tidak dibawa sebegitu banyaknya yang penting cukup untuk pulang dan pergi.
"Bu, bener moal ngiring?" tanya Dipta. (1)
Rahayu menghela napas kasar, "lamun ningali indung kandung teh, ibu sok ngarasa kesel. Hayang ... kumaha kitu mun bisa mah. Ibu percaya ka Dipta, Jang." Rahayu mendorong kepala anak itu ke bawah agar dapat mencium keningnya. (2)
"Dipta berangkat. Mang Asep bade nganterkeun ka terminal saurna." Dipta takzim. (3)
"Inget, ulah emosi. Kontrol diri," saran Utari. (4)
"Hayu, Mang!" ajak Dipta. (5)
"Naha teu mawa gembolan?" Asep heran. (6)
"Geus indit. Kade di jalan na!" usir Utari. (7)
Beberapa menit kemudian, Dipta tiba di terminal. Dia mencari bis dengan jurusan sesuai kartu identitas Dwi. Kenek menyuruhnya masuk ketika menemukan kendaraan yang tepat. Dia duduk di bangku dekat jendela dan memulai perjalanan. Entah apa yang akan terjadi di sana. Dia hanya memohon bahwa pernyataan ibunya merupakan kebohongan belaka atau prank untuk hadiah ulang tahunnya.
****
Sumedang, Saat Ini
Rumah dengan cat warna hijau yang terus diperbaharui setiap tiga tahun sekali menyimpan cerita. Kisah yang terkenal di kalangan masyarakat datang dari keluarga Oman Surrohman dan Suti Qadarsih. Dari dua anak perempuannya, putri sulung mereka merupakan pusat perhatian bagi warga sekitar. Dwi bekerja sebagai buruh pabrik saat ini.
Dia menikah lagi tiga tahun setelah melahirkan Dipta dan dikaruniai dua anak. Namun, masyarakat menilai bahwa anak-anaknya tidak ada yang memiliki jalan lurus. Bayu sebagai yang tertua sering kedapatan mabuk dan membuat onar. Sementara Irpan terlibat dalam keanggotaan geng yang meresahkan.
Nur sebagai anak perempuan satu-satunya tumbuh menjadi wanita yang hidup di malam hari. Dua anak dari pernikahan Dwi dengan Samsul pun demikian. Nando terpaksa menikah muda sebab melakukan hubungan terlarang bersama kekasihnya hingga berbadan dua. Putra--si bungsu--merupakan tahanan rumah setelah ditangkap warga usai mencoba membobol sebuah toko.
Annisa tidak seperti kakaknya. Dia menjadi seorang guru di taman kanak-kanak. Wanita itu sudah menikah dengan pria bernama Kahfi dan memiliki seorang putri cantik. Khumaira. Suaminya sering mengeluh terhadap keluarga sang kakak ipar yang dianggap begitu kacau-balau.
"Bibi ... Bibi!" panggil Nur.
"Astagfirullah, Nur. Nu bener make baju teh!" sentak Annisa. (8)
"Nu penting mah intina katutup tong teu make baju teuing!" protesnya. (9)