Dipta meminum air putih yang disajikan Annisa. Bahkan, dia menawari makan kala itu. Namun, Dipta menolaknya dengan halus. Pria itu memperhatikan setiap foto yang dipajang di dinding. Salah satu figura menarik perhatiannya karena menampilkan foto Dwi dan seorang lelaki yang mengenakan baju pengantin. Di foto lainnya dia melihat sosok Irpan yang baru menyerangnya di warung.
Suasana sangat canggung. Dipta bahkan tak tahu harus mengatakan apa. Padahal dia ada di tengah-tengah keluarganya sendiri. Dari sebuah ruangan keluar pemuda berambut pirang dengan anting. Putra baru bangun dan dipaksa untuk mandi oleh Annisa. Dia harus berangkat bersama ayahnya untuk wajib lapor di polsek. Kegiatan itu di berlangsung dua kali selama seminggu.
"Saha ieu?" tanya Putra. (1)
"Mmm ..." Annisa tampak kebingungan.
"Ieu sodara jauh Amang ti Bekasi!" Kahfi menyela. (2)
"Ohh. Mondok?" tanyanya. (3)
"Nanti juga sore saya pulang," sahut Dipta.
"Aluslah. Geus heurin didieu. Tong katambahan deui jelema!" Dia sekaligus menyindir Annisa agar segera meninggalkan rumah. (4)
"Putra, buru. Kaburu jam sabelas!" Pria berambut gimbal tiba-tiba berteriak. (5)
Samsul hanya memandang sekilas pada Dipta, lalu dia pergi bersama Putra. Setelah keadaan tenang, Annisa menanyakan kabar Rahayu dan orang-orang yang pernah bertamu kemari. Dipta memberitahu bapaknya yang telah tiada. Begitu pun dengan Annisa yang menyampaikan kakek dan neneknya sudah tutup usia.
Annisa mewakili Bu Suti dan dirinya sendiri memohon agar Dipta membukakan pintu maaf bagi mereka. Saat itu, mereka terlalu takut untuk bertindak. Wanita itu membenarkan bahwa kakeknya yang mengusir Dwi dari rumah dan memaksa melakukan aborsi. Dipta berusaha menahan amarah sekaligus sakit hati yang membaur menjadi satu.
Bahkan, ketika orang-orang Bandung datang dan membuat surat perjanjian pun mereka tidak dapat menghentikannya. Pak Oman bersikeras untuk tidak merawat anak yang disebutnya sebagai aib. Lagi, Dipta benar-benar menahan amarahnya. Akan tetapi, wajahnya yang mulai memerah seolah tak dapat menepis hal tersebut.
Dipta memaafkan keduanya. Namun, dia memiliki banyak pertanyaan di benaknya. Salah satu yang ditanyakan olehnya yaitu tentang ibunya. Mengapa dia berusaha untuk membunuhnya dengan cara menenggelamkan ke bak mandi. Annisa syok bukan main karena dia tidak tahu apa yang dilakukan kakaknya itu pasca diusir dari rumah.
Dipta butuh penjelasan. Di mana letak kesalahannya. Di mana kekeliruannya. Di mana hati nuraninya hingga membiarkan anak yang dikandung selama sembilan bulan nyaris dilenyapkan begitu saja. Setidak layak itukah dia hidup sampai harus dirawat oleh orang lain yang justru menyayanginya. Padahal di antara mereka tidak ada ikatan darah sama sekali.