MERPATI YANG TERBANG TERLALU JAUH

Papp Tedd
Chapter #24

Chapter XXIV: Terluka Sedalam Samudra

Dipta tiba di Terminal Cicaheum sekitar jam lima sore. Kesedihannya berubah antusias ketika merasa telah menjauh dari keluarga kandungnya. Lelaki itu tersenyum saat turun dari kendaraan umum. Dia melangkah perlahan, merasakan embusan angin yang seolah menyambut kedatangannya. Hiruk-pikuk yang terjadi di sekitar pun diamati dengan baik olehnya.

 

Dipta melanjutkan perjalanan. Dia memecah kerumuman untuk pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, tiba-tiba pikirannya bergerliya. Apakah masih dia diterima di keluarga Rahayu, sedangkan mereka memintanya untuk pergi ke Sumedang. Dipta tertegun di trotoar. Tak memedulikan klakson-klakson dan deru mesin kendaraan di jalanan.

 

Dipta melangkah lebih pelan. Keyakinanya terkikis, tetapi kata hatinya terus berkata lain. Dia tetap harus kembali pada Rahayu. Bagaimanapun kondisinya. Lagi pula, dia pergi tadi pagi tanpa membawa apa pun. Sebuah pertanda bahwa dia memang harus pulang. Dari langkah lamban, tiba-tiba Dipta berlari layaknya sedang jogging. Yang membedakan hanya kostumnya saja.

 

Dipta tiba di lampu merah kedua dan berbelok ke kiri. Di sini merupakan wilayahnya. Hampir semua mengenal pemuda itu karena mereka adalah langganan warung nasi Rahayu pada masanya.

 

"Dipta, bade ka mana?" tanya seorang pria. (1)

 

"Bade uih, A!" sahutnya dengan napas terengah. (2)

 

"Meni lulumpatan. Sugan teh beres lari ngan naha make calana jeans!" candanya. (3)

 

Dipta mengangguk sembari tersenyum, "tipayun A!" pamitnya. (4)

 

"Salam ka Bu Ayu!"

 

Tinggal beberapa meter lagi menuju ke rumah. Seperti lelaki sebelumnya, dia banyak disapa oleh warga sekitar. Hingga dua blok lagi bangunan itu terlihat. Di mana ada pedagang nasi goreng yang tampak menyiapkan berbagai hal sebelum memulai usaha. Langkahnya kembali melambat. Pandangannya fokus kepada rumah itu. Tempat di mana dia tumbuh dan menemukan berbagai hal luar biasa.

 

Tempat di mana kasih sayang mengalir deras tanpa pandang bulu. Tempat di mana banyak kisah yang terukir dan tak cukup untuk dituliskan dalam waktu satu bulan. Tempat di mana dia diperhatikan dan dicintai sepenuh hati. Tak peduli seberapa buruk masa lalunya, mereka tetap menyayangi tanpa memohon balasan apa pun. Dipta berdiri di depan rumah. Dia menengadah ke kandang merpati yang dibangun oleh Permadi dan kini masih kokoh di tempatnya.

 

"Eh, A Dipta. Naha atuh teu ka lebet. Sakedap deui Magrib, nu karitu mah resep kanu kasep teh!" celotehnya.(5)

 

"Bisa we Mang Andi mah. Kalebet heula, Mang!" (6)

 

Dipta berdiri di depan jendela. Dia melihat Rahayu bersama Utari sedang duduk menonton televisi. Dipta mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Dia pun membukanya. Memandang Rahayu mengundang kesedihannya kembali. Tanpa melepas sepatunya pria itu menghampiri ibunya. Dia bersimpuh dan menumpahkan lagi air matanya.

Lihat selengkapnya