Memasuki bulan Apri di tahun 2014, kehidupan Dipta mulai stabil. Anak yang dahulu bahkan tak diinginkan itu kini menjadi orang yang lebih baik. Dia tengah merencanakan pernikahannya yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Seorang wanita yang tak lain merupakan pelanggannya sendiri berhasil menarik hatinya.
Sebelum rencana itu terealisasikan, dia masih harus mencari tambahan. Meski Rahayu berkata bahwa dia bisa memakai uang miliknya untuk pernikahan jika ada kekurangan, Pemuda itu tidak mau menerimanya. Baginya, jasa sang Ibu sudah sangat besar selama ini. Maka dari itu dia harus berusaha sendiri bila terkait soal materi. Sebelum berangkat kerja, Dipta mampir ke TPU. Dia menyambangi rumah Permadi. Usai mendoakan dan menyebarkan bunga-bunga di atas tanah merah, dia mencium batu nisan bertuliskan nama.
“Bapak, nuhun atos ngarawat, ngadidik, ngajadikeun Dipta janten jalmi siga ayeuna. Hatur nuhun, Pak. Dipta bakal ngajaga Ibu, ngurus Ibu, maturan Ibu. Dipta moal kamana-mana.” Lengannya mengusap-usap batu nisan. Pria itu lantas meninggalkan TPU. (1)
Di bulan ini, musim pemilu dimulai. Dipta hari itu di perjalanan menuju ke lokasi di cabang lain. Dia tidak pindah hanya dibutuhkan sebagai bantuan back up bagi beberapa karyawan yang libur atau mengambil cuti. Dia berangkat pagi itu bersama tiga rekannya. Mereka mengendarai mobil sedan berwarna silver keluaran tahun 2004 milik Dipta.
Sepanjang mata memandang spanduk-spanduk tampak terpasang di tepi jalan. Belum lagi stiker-stiker yang ditempel di setiap dinding bangunan. Perjalanannya kali ini membawa Dipta ke daerah Setiabudi. Lokasi yang pernah disambanginya dua kali saat hang out ke Lembang bersama beberapa rekan kerja.
"Woo! Tahan Pak Bos!" Dipta menginjak rem seketika saat nyaris menyerobot lampu merah.
"Poe mimiti mawa mobil sigana," tebak Evan. (2)
"Rek nyerobot bieu teh. Aya motor ti arah kiri, ngebut. Padahal masih lampu beureum di ditu mah!" Dipta menggeleng. (3)
"Nu marawa motor biasana kitu teu salabaran. Tibaheula eta teh!" geram Gilang. (4)
"Tempo cilaka kabukti manehna nu salah. Langsung ngaluarkeun jurus andalan. Sing karunya, Pak, abdi teh jalmi sangsara sing. Cih!" lanjut Evan. (5)
"Jod, antum kunaon. Meni fokus ningali ka hareup." Evan menegur temannya yang tampak tertegun, lalu menatap Dipta. Hal itu dilakukan berulang-ulang. (6)
"Van, Van. Coba tingali eta. Tuh baliho nu badag eta!" tunjuknya. (7)
"Itu nu bodas?" Evan dan Gilang yang duduk di belakang tampak mengamati baliho tersebut. (8)
"Maraneh teh kunaon?" Dipta bingung mendapati tiga temannya yang bersikap aneh. (9)
Mereka meminta Dipta memperhatikan baliho tersebut. Menurut mereka foto pria berpeci di sana bak pinang dibelah dua dengan Dipta. Struktur wajah, alis, mata, hingga garis bibirnya ketika tersenyum pun sama. Namun, Dipta menyangkalnya. Dia merasa tidak mirip sama sekali dengan pria di baliho itu mungkin hanya kebetulan saja mereka tampak sekilas seperti serupa. Lampu berubah hijau kendaraan pun melaju. Dipta membanting setir ke kanan.
Selama perjalanan dia terus memikirkan perkataan teman-temannya. Apakah benar? Di kota, di dunia yang menurut orang-orang seluas samudra. Baginya tetap terasa sempit. Argh! Dipta benar-benar terganggu dengan pernyataan tersebut. Sebelum masuk dia ke ruang kerja dia sempat mengingat nama dari pria di baliho itu. Dia melakukan pencarian lewat situs internet di ponselnya.