Kalau dengar kata jalan Sudirman, sudah biasa kita membayangkan pusat perkotaan yang megah, gedung-gedung bertingkat seperti kawasan SCBD Jakarta. Tapi ini wilayah Sudirman di Jogja kota, memang tidak ada pencakar langit setinggi di Jakarta, hanya saja nama pahlawan kita ini identik dengan lokasi yang megah. Tapi (sekali lagi) ini belum masuk ke wilayah jalan Sudirman tapi sebelah timurnya, setidaknya begitu orang Jogja kalau menjelaskan soal arah, namanya Jalan Urip Sumoharjo, nama pahlawan juga.
Di balik pusat pertokoan di jalan Urip Sumoharjo ada kampung namanya Iromejan. Rumah-rumah di wilayah gang kampung Iromejan bisa dibilang padat dan banyak yang dijadikan kos-kosan. Tidak ada nama gang secara khusus, tapi yang menarik di ujung gang rumah pak Mangku ada tulisannya “Ngebut Benjut”. Mungkin tulisan itu dijadikan peringatan biar para pemuda yang indekos di sana tidak mengebut saat naik motor atau ancamannya bakalan benjut – babak belur.
Pukul lima pagi, saat kebanyakan orang masih menimbang-nimbang antara bangun atau pura-pura mati di kasur, Gang Ngebut Benjut sudah seperti panggung gladi bersih acara tujuh belasan. Suara ayam berkokok bersahutan, radio tua memutar campursari dari rumah ujung gang, dan entah siapa yang menggeser kursi plastik sejak subuh, bunyinya skrreeek menyayat udara.
Riski bangun dengan mata setengah terbuka dengan perasaan masih di alam mimpi.
“Mas… Mas…” bisik Leli pelan.
Riski mengerang. “Kalau bapak nyalain toa lagi, sumpah aku pindah planet.”
Belum selesai kalimat itu, suara menggelegar langsung menembus dinding tipis rumah mereka.
“SEMANGAT PAGI PARA WARGA! JAM TUJUH KERJA BAKTI! YANG TIDAK HADIR, SAYA CATAT DI PAPAN INFORMASI!”
Riski membuka mata lebar-lebar.
“…itu dia.”
Leli menahan tawa sambil menutup mulut. “Bapak cuma ngingetin.”
“Ngigetin itu pakai WA grup, bukan toa masjid,” gumam Riski.
Ia bangkit dari kasur dan berjalan ke jendela kamar. Dari sela gorden, ia bisa melihat sosok yang sangat dikenalnya: Mangku Singo Dimejo, bapak mertuanya berdiri di depan rumahnya sendiri yang berada di samping rumah Riski hanya bersekat pagar tanaman setinggi setengah meter. Dengan peci hitam, kaus oblong, sarung digulung sampai lutut, dan mikrofon kabel di tangan, pak Mangku tampak percaya diri.
Di belakang pak Mangku, ia sudah siapkan papan tulis putih berdiri tegak. Di atasnya tertulis:
AGENDA WARGA IROMEJAN RT 7 HARI INI:
Riski mengusap wajah.
“Latihan… yel-yel… gang?” gumamnya.
Dari belakang, Doni muncul dengan mata masih belekan. Anak tujuh tahun itu menggaruk kepala.
“Pak… itu akung lagi bikin lomba apa?”
“Bukan lomba,” jawab Riski lesu. “Itu… hidup kita.”
Dion, yang baru berusia dua tahun, ikut muncul sambil membawa mobil-mobilan. Ia menunjuk keluar jendela dan berseru lantang,
“Kung! Kung!”
Pak Mangku mendengar.
Ia langsung melambaikan tangan ke arah jendela Riski.
“PUTUKU! NANTI IKUT KERJA BAKTI, YA! YANG KECIL JUGA BELAJAR NYAPU!”
Riski buru-buru menutup gorden.
“Dia punya radar,” gumamnya.
Riski duduk di meja makan dengan secangkir kopi pahit. Kepalanya sedikit berdenyut, bukan karena kurang tidur, tapi karena ia tahu: hari ini akan panjang.
Di meja, Leli sedang memotong roti. Sikapnya santai. Terlalu santai, menurut Riski.
“Kamu kok kelihatan tenang banget?” tanya Riski.
Leli mengangkat bahu. “Udah kebal.”
“Kamu tuh kebal karena itu bapakmu.”
Leli tersenyum. “Dan sekarang… beliau juga bapakmu.”
Seperti dipanggil, pak Mangku muncul di depan pintu rumah mereka tanpa mengetuk.
Riski refleks berdiri. “Pak?!”
Mangku menyibakkan tirai dengan percaya diri.
“Pintu kebuka kok. Saya kira boleh masuk.”