Mertua Adalah Mawut

Ardhi Widjaya
Chapter #2

Lamaran Ma(w)ut

Riski belum pernah merasa selega sekaligus setegang ini dalam hidupnya. Sejak pagi, jantungnya berdetak seperti bedug Subuh di masjid. Ini bukan cuma soal melamar gadis pujaannya, Leli, yang dipacarinya semenjak semester akhir kuliah Sastra Inggris di sebuah Universitas Terkemuka Yogyakarta. Tapi juga soal satu hal yang lebih menegangkan yakni menghadapi Mangku Singo Dimejo, calon mertuanya yang terkenal di kampung karena satu hal: suka menjadikan urusan pribadi jadi tontonan umum.

Gang Sempit dengan papan “Ngebut Benjut” pagi itu tidak seperti biasanya. Biasanya cuma ramai sama aroma gorengan dan suara emak-emak ngerumpi, tapi kali ini, suasananya mirip hajatan tingkat RT plus bonus lomba 17-an. Di ujung gang, terbentang spanduk putih dengan huruf merah besar-besar berwarna merah mentereng bertuliskan:

“LAMARAN PUTRI KEBANGGAAN KAMI:

LELI SEPTIANI, S.S.

OLEH: RISKI ANANDA, S.S., CALON MENANTU BERUNTUNG.”

Riski berdiri di depan gang itu, menatap spanduknya dengan wajah kaku.

“Ya Allah, ini lamaran apa acara wisuda, sih?” gumamnya pelan.

Belum sempat dia menata napas, datanglah Mangku Singo Dimejo dengan langkah mantap dan perut maju beberapa sentimeter dari dadanya. Kemeja batik hijau tentara yang dikenakannya memantulkan cahaya matahari, seolah ingin berkompetisi dengan spanduk di belakangnya. Sedikit keringat menetes di jenggotnya, pertanda dia sudah sibuk sejak subuh.

“Lho, Riski! Kok berdiri di situ aja? Masuk, to! Wong iki acara awakmu!” seru pak Mangku dengan suara lantang yang bisa menggetarkan seng tetangga.

“Eh, iya, Pak, eh, maksud saya, Bapak Mangku…” Riski tergagap tanda grogi.

“Lho, lho, kok jadi formal gitu. Santai wae! Hari ini awakmu resmi jadi bagian keluarga Singo Dimejo. Iki gang kabeh wis ngerti, wong aku pasang spanduk jam lima subuh!” Pak Mangku seperti ingin menunjukkan diri sebagai sosok berpengaruh.

“Lho, jam lima, Pak?” Riski terbelalak

“Iya to. Biar kalo ada tukang sayur lewat, langsung tahu anakku dilamar. Promosi juga, siapa tahu ada yang mau nyumbang ayam.”

Riski cuma bisa nyengir. Ia menatap sekeliling, meja panjang dari papan bekas sudah tersusun di depan rumah. Di atasnya ada nampan besar berisi nasi liwet, ayam goreng, sambal terasi, dan lalapan seadanya tapi jumlahnya cukup buat satu RT. Ibu-ibu gang sudah duduk rapi di kursi plastik warna-warni, sebagian sibuk mengipas diri pakai undangan lamaran yang dibagikan pak Mangku sendiri.

Yang bikin Riski makin bingung, bukan cuma tetangga depan rumah yang datang. Ada juga Pak RT, tukang ojek, bahkan si Udin penjual es cendol yang katanya “mampir bentar, siapa tahu dapet nasi kotak.”

Leli muncul dari balik pintu rumah dengan kebaya biru muda. Cantik digandeng bu Tini, ibunda tersayang. Tapi yang lebih menonjol justru aura pasrahnya. Ia memandang Riski dengan senyum tipis yang seolah berkata: “Sabar, Mas, ini bapakku, bukan aku yang suruh.”

Lihat selengkapnya