Momen akad nikah dilakukan di Masjid Syuhada wilayah Kotabaru, salah satu masjid legendaris di Jogja. Saat Riski mengucapkan ikrar nikah dengan mas kawin sepuluh gram emas dan seperangkat alat sholat dan saksi mengucapkan “sah” para kerabat yang hadir tampak terharu terutama bu Tini, saking terharunya hingga terdengar bunyi “SROTTTT,” bu Tini buang ingus di selembar tisu dengan cuek tanpa mempedulikan para kerabat yang terbelalak melihat tingkahnya barusan.
Menuju ke area resepsi, mobil pengantin berhenti di ujung gang rumah Leli dengan manuver tiga kali mundur, dua kali maju, dan satu kali teriakan dari warga yang berdiri di pinggir. Yang membuat ayah Riski yang menyetir dibuat keki dengan berbagai tipe komando parkir.
“Mentok! Mentok! Setir kiri, Pak!”
“Eh… bemper!”
“Selokan, Pak!”
Riski mengintip lewat kaca. Gang itu sempit. Bukan sekadar sempit, ini jenis gang yang bikin dua orang dewasa harus tarik perut sebelum berpapasan. Tenda biru putih memanjang seperti ular plastik dari ujung sampai ujung. Kursi plastik dijejalkan rapat di sisi tembok, sementara jalur tengah disisakan secuil untuk lalu lintas tamu, pengantar nasi, dan anak-anak yang lari-larian.
Leli mencondongkan badan, aura wajahnya berusaha memancarkan citra positif se-berbinar bintang iklan body lotion.
“Selamat datang di Gang Ngebut Benjut.” Riski menelan ludah.
“Ki…” Ibunya di kursi depan berdehem.
“Iya, Bu.” Riski dari kursi tengah merespon.
“…resepsinya beneran di sini?” Sang ibu kembali memastikan
“Iya…” Jawab Leli perlahan.
Ayahnya menepuk lutut. “Yang penting halal.”
Begitu turun dari mobil, BRAKK. Seorang ibu nyenggol baki minuman.
“Aduh!” Seloroh ibu-ibu tersebut.
“Maaf, Bu!” Riski sungkan.
“Gapapa, Mas… dari tadi juga diseruduk.” Si ibu tetangga hanya meringis.
Riski baru dua langkah sudah minta maaf tiga kali. Dari ujung tenda, terdengar suara dangdut koplo. “Tutupen botolmu, tutupen oplosanmu…”
Biduan berdiri di panggung kecil ukuran meja pingpong, bergaun hitam beludru dengan aksen keemasan di bagian lengan dengan rok mini dan stoking jaring laba-laba. Keyboard diselipkan di depan rumah warga, speaker nempel tembok, dan kabel listrik menjalar di atas kepala tamu seperti dekorasi tambahan.
Pak Mangku Singo Dimejo berdiri dekat panggung, pakai batik cokelat dan kopiah miring yang buru-buru dirapikan oleh bu Tini, istrinya. Padahal sudah harus mempersilakan pihak pengantin dan besan maju ke pelaminan, ia malah memberi instruksi pada pemuda kampung.
“Mas, sound-nya jangan terlalu kenceng! Ini nikahan, bukan konser tujuh belas Agustus!”
Pemuda itu mengangguk sambil memutar kenop. Dua detik kemudian… makin keras. Pak Mangku bersungut-sungut lalu nyelonong ke area sound system untuk mengecilkan volume.
Orang tua Riski baru melangkah tiga meter menuju pelaminan untuk bersanding, belum juga duduk dan bernafas lega sudah direpotkan dengan panggilan foto bersama.
“Pengantiiin… foto dulu sama keluarga besar!” Seorang fotografer kampung dengan kamera besar di leher melambai-lambai, pak Mangku langsung sigap. “Keluarga Singo Dimejo dulu! Yang jauh merapat! Yang dekat… ya makin dekat!”
Riski berbisik. “…udah nempel, Pak.” Bu Tini muncul dari balik badan suaminya yang menutupinya lantaran terlalu bersemangat “Pak, ini Om Giman belum masuk frame!”
“Masukin! Semua masuk!” komando pak Mangku laksanan pemimpin upacara
“Pak, ini tembok…” Leli mengingatkan.
“Geser dikit!” Bu Tini merapat.
Riski terjepit antara paman berperut buncit dan pot bunga plastik.