Jam dinding di ruang tengah menunjuk angka setengah sepuluh malam ketika kursi-kursi plastik mulai ditumpuk, tenda ditarik setengah, dan suara dangdut akhirnya berhenti setelah biduan mengucapkan terima kasih untuk yang terakhir kalinya. Buat resepsi nikahan Riski dan Leli ini, biduan sampai dibagi 3 shift: siang-sore-malam.
Riski duduk di pinggir dipan kayu di kamar tamu yang malam itu disulap jadi kamar pengantin. Jasnya sudah digantung asal di balik pintu. Rambutnya lepek, kerah kemeja terbuka satu kancing, dan matanya terasa berat seperti habis mengangkut karung beras. Dibukanya kacamatanya sejenak untuk mengucek kedua matanya yang terasa penat
Leli duduk di depan meja rias kecil yang kacanya retak di sudut. Dia hapus riasan tebalnya dengan sapuan kapas yang dibasahi cairan perawatan pembersih kulit wajah.
“Capek banget,” gumamnya sambil melepas anting.
Riski mengangguk pelan. “Aku kayak habis ikut lomba estafet… se-RT, owh nggak marathon di Prambanan lebih tepat”
Lampu kamar sudah diredupkan. Riski dan Leli lalu berbaring berdampingan di ranjang, masih kaku seperti dua orang yang baru sadar statusnya resmi berubah.
“Seru ya tapi, awal yang menyenangkan nikah sama kamu.” Leli menarik napas panjang.
Riski mengangguk. “Iya, seru kayak habis ikut karnaval… tapi jalurnya satu meter, bolak balik seribu kali tapi seneng akhirnya aku jadi suami kamu sayang...” Mereka tertawa pelan.
Baru saja Riski memejamkan mata, TOK. TOK. TOK. Ia membuka mata.
“…ini siapa lagi.” Riski beranjak bangun tapi masih terduduk di pinggir ranjang.
“Riski… Leli…” Suara Bu Tini.
Riski duduk. Leli melirik jam di ponsel menunjukkan jam sepuluh malam. Riski bangkit, membuka pintu setengah. Bu Tini berdiri dengan mangkuk besar di tangan, uap tipis mengepul.
“Ini diminum dulu.” Bu Tini tersenyum lebar
“…apa ini Bu?” Riski penasaran, tercium aroma manis dari mangkuk yang mengepulkan asap tipis itu.
“Bubur kacang ijo.” Bu Tini menyodorkan mangkuknya, Leli mendekat.
“Jam segini banget to bu ngasi-nya?” Leli merespon manja khas anak tunggal ke ibunya.
“Bagus buat pengantin baru.” Bu Tini tersenyum penuh makna.
“…oh.” Riski menelan ludah sembari menrima mangkuk hangat yang disodorkan di hadapannya.
“Biar cepat punya anak.” Bu Tini memperjelas makna. Leli terbatuk kecil. Riski terdiam dua detik terlalu lama.
“Ibu masakin sendiri, loh.” Bu Tini langsung menambahkan
“Terima kasih, Bu,” kata Leli cepat.
“Nah. Diminum ya. Masih hangat.”
“Iya, Bu.” Riski menambah dengan senyuman, kacamnatanya tampak buram terkenap uap kacang hijau panas.
“Oh ya, ada yang lupa.” Bu Tini melangkah pergi… lalu balik lagi.
“Iya, Bu?” Leli penasaran
“Nanti mangkuknya taruh dapur.” Bu Tini mengingatkan
“…siap.” Jawab Riski. Pintu kamar pengantin ditutup.
“…malam pertama dibuka dengan nutrisi.” Riski menatap buburnya.