Pagi datang dengan suara percikan air selang Bu Tini yang menyiram jalanan kampung dan bunyi sendok beradu dengan piring dari rumah sebelah.
Riski membuka mata perlahan. Yang pertama ia lihat bukan plafon rumahnya di wilayah Bangunjiwo, Bantul dengan akses bambu dan jendela kamar yang menghadap sawah dan biasa ditemani suara angin dan burung melainkan langit-langit rumah Pak Mangku dengan bekas rembesan lembab berbentuk seperti peta pulau.
“Oh iya…” Ia menghela napas. “Selamat pagi istriku tersayang…” Riski membangunkan Leli yang mulai menggeliat dan menyibak rambutnya yang separuh menutupi mukanya saat tidur.
Riski lalu duduk, mengucek mata dan memasang kacamatanya, Leli menyusulnya duduk lalu memeluk dari belakang.
Dari luar terdengar suara ibu-ibu ngobrol.
“Air PDAM-nya kecil, Bu.”
“Kayaknya bentar lagi mati.”
Seorang anak berteriak, “Buuu… sendokku jatuh!”
Riski melirik jam dinding, jam enam lewat. Ia lalu beranjak dari ranjang dan melongok ke jendela. Yang terlihat bukan hamparan hijau. Melainkan tembok rumah tetangga yang jaraknya cuma dua meter.
Riski tersenyum tipis, menikmati hidup yang baru saja ditempuhnya sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga.
Pintu kamar diketuk yang membuatnya terbuka sedikit, Bu Tini mengintip.
“Iya bu kenapa?” Leli menyapa ibunya
“Ayo sarapan” Bu Tini membuka pintu kamar lebih lebar dan menyunggingkan senyum.
Sarapan di rumah pak Mangku tetap terasa meriah seperti suasana resepsi ya mungkin karena pak Mangku yang antusias memaparkan jenis-jenis menu sarapannya.
“Nasi, telur, ayam, gorengan sama sambel.” Pak Mangku menunjuk ke piring-piring saja, lalu mulai duduk setelah bu Tini menyodorkan piring berisi nasi. Dan Riski mulai menyendok sarapannya.
“Ki. Habis ini pindahan ya.” Sela pak Mangku yang membuat Riski berhenti mengunyah mendadak.
“Pindahan?” Riski sadar sih kalau dia dan Leli akan segera menampati rumah sendiri, apalagi sejak sebelum menikah, Riski sudah membangun rumah impiannya bernuansa pedesaan di wilayah Bangunjiwo - Bantul.
“Iya ke rumah kalian.” Pak Mangku merespon dengan gaya tegas.
“Iya kami memang sudah siap mengisi rumah yang di Bantul pak…” Riski lanjut dengan meneguk air putih setengah gelas.
Pak Mangku menggeleng. “Rumah yang depan dong, bukan yang di Bantul.”
“…depan?” Riski kaget dan segera melempar pandangan ke Leli
“Bener, depan rumah ini.” Bu Tini menyahut ceria.
“Tinggal nyeberang jalan gang ini aja.” Pak Mangku menimpali. Riski menelan sekerat daging ayam yang belum sempat dikunyah hingga membuat tenggorokannya terasa seret.
“…gang yang sama.” Leli mengangkat bahu.
Besoknya, berhubung Riski masih cuti dalam rangka pernikahannya, akhirnya dia lakukan proses pindahan ke rumah baru, depan rumah mertuanya. Rumah itu tampak baru dicat dengan warna hijau meriah yang kalau disebut di konten media sosial adalah warna hijau miskin. Teranya sempit dan ini wajar karena hunian di kampung Iromejan ini memang demikian padat penduduk. Jendela langsung menghadap rumah pak Mangku, begitu terpampang nyata dengan jarak hanya sekitar lima langkah saja.
Riski berdiri. Ini bukan dekat. Ini satu frame.