Riski pulang jam sembilan malam dengan pundak miring ke kiri, tas selempang menggantung seperti beban hidup, dan kepala masih penuh data-data KPI - Key Performance Indicator khas agensi periklanan.
Gang sudah agak sepi. Lampu-lampu teras menyala pendar kuning temaram. Di seberang, rumah Pak Mangku masih terang. Riski membuka pagar kecil rumahnya pelan. Baru dua langkah, bulu kuduk Riski berdiri merinding.
“Ki…” Ada panggilan yang membuatnya menoleh. Pak Mangku berdiri di teras, pakai kaos oblong dan sarung, memegang segelas minuman hangat, mungkin jahe yang jadi andalannya.
“…iya, Pak.” Riski menyahut pelan dengan harapan tidak dianggap berisik oleh tetangga.
“Lembur terus.” Gurau pak Mangku yang membuat Riski tersenyum tipis.
“Iya pak, lagi banyak kerjaan.” Riski menjawab sambil meluruskan tali selempang tasnya sambil berniat masuk ke dalam rumah berharap ada pergerakan Leli keluar menyambutnya.
“Zaman saya muda juga kerja keras.” Pak Mangku mengangguk perlahan. Tahu-tahu dia sudah mendekat ke rumah Riski dan duduk di bangku kecil teras rumah Riski.
“…iya, Pak.” Riski tertunduk lesu berharap pak Mangku menyudahi basa-basi ini.
“Tapi jam segini saya sudah di rumah.” Pak Mangku seperti akan mulai flexing.
“…iya.” Riski memberi respon dengan mengangguk lagi dan duduk di bangku sebelah bapak mertuanya duduk.
Pak Mangku melanjutkan, “Kios galon sama gas tutup jam lima.”
“…enak ya, nyantai Pak.” Riski menelan ludah, dugaannya mulai muncul.
“Bukan enak lebih ke teratur, ya yang penting bapak telaten sampai sekarang.” Pak Mangku tersenyum bangga.
Di dalam rumah, Leli menyambut dari balik pintu. “Kamu telat,” sudah malam tapi matanya masih berbinar, mungkin karena habis maraton nonton drama Korea sembari menunggu Riski.
“Seperti biasa lah.” Riski menjawab dengan menyungging senyum.
“Owh bapak di sini juga, seperti biasa...” Leli mengulum senyum ke arah pak Mangku.
“Ya udah bapak balik dulu, tadi nemenin Riski bentar…” Pak Mangku beranjak menuju ke rumahnya di seberang.
Riski menaruh tas ke dalam. “Aku belum siap dikasi tauziah.” Dia sedikit menggerutu pada Leli.
“Baru juga tauziah, belum juga tabligh akbar Singo Dimejo” Leli mengajak bercanda suaminya.
“Ebuset takuuuut” Riski lalu menunjukkan gelak tawa tanda lelahnya telah lepas bersama Leli.
Tapi, ibarat meme kartun Spongebob Squarepants yang ada tulisan a few moments later, Tiga hari kemudian, pola Pak Mangku itu jadi rutinitas. Riski datang malam, pak Mangku muncul. Kadang dengan teh, kadang dengan kacang rebus tapi seringnya dengan pertanyaan, “Lagi ngerjain apa sekarang?”, “Kapan pulang sore?” yang selalu membuat Riski menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan tanggapan yang pendek, sambil masuk ke rumah. Lelipun sadar tidak serta merta muncul saat bapaknya kerap nyelonong, harapannya tidak membuat situasi itu berlama-lama. Sebab Leli juga paham kalau Riski butuh istirahat dan Leli butuh berduaan dengan suaminya.
Suatu sore, Riski pulang agak awal, jam enam sore. Ia berharap lolos, tapi ternyata pak Mangku lagi duduk sama bu Tini di teras mungil rumah Riski
“Kok tumben cepet pulangnya?” Pak Mangku menyapa.
“…iya, pak-bu, pak-bu, Leli ke mana?” Riski langsung berbasa-basi pada kedua mertuanya.
“Wah… suami rajin, owh Leli tadi lagi ibus suruh beli gorengan.” Bu Tini tersenyum.
“Kebetulan nggak banyak kerjaan hari ini.” Riski mengangguk.
“Duduk.” Pak Mangku menepuk kursi.
Riski duduk, baginya ini tanda bahaya, entah ceramah gaya apa yang kali ini akan didengarnya.
“Begini, Ki,” kata Pak Mangku pelan. “Kamu kerja di kantor?”
“Iya pak, gimana?” Jawab Riski
“Capek nggak?” Pak Manggu memang suka menggali-gali emosi menantu satu-satunya ini.
“Iya lumayan, namanya juga cari nafkah pak, tapi saya seneng kok.” Riski menjawab datar
“Saya dulu juga capek.” Pak Mangku tampak mulai membandingkan diri.
“…iya.” Riski merespon seprlunya meski dalam batin: siapa yang nanya?
“Tapi bisa pulang sore.” Nah kan mulailah perbandingan dengan kisah diri pak Mangku dimulai.
“Iya alhamdulillah soalnya usaha sendiri kan pak.” Riski menarik napas.
“Nah!” Pak Mangku mengangkat jari. “Berdikari.”
“…iya.” Riski mengangguk karena malas merespon.
“Kios galon sama gas saya itu buka jam tujuh.”
“Iya.”
“Tutup jam lima.”
“…iya.”