Kamis sore, lagi-lagi ada kejadian setelah pulang kerja. Riski baru saja masuk rumah dan menaruh tas kerja di sofa ketika dari luar terdengar suara khas yang mulai ia kenali sebagai tanda warning ringan.
“Leeeel…” Nada itu lembut tapi terdengar jelas.
“Ya, Bu?” Leli yang sedang di dapur berhenti mengaduk teh yang disiapkan untuk Riski.
“Ke depan sebentar.” Bu Tini memberi arahan. Riski menutup mata sepersekian detik. Ini pasti proyek.
Di depan rumah, Bu Tini sudah berdiri dengan topi kain lebar dan sarung tangan plastik warna biru. Lalu dengan sigap dia menata berjajar pot-pot kecil: ember bekas cat, galon air mineral dipotong, sampai baskom retak di depan rumah Leli dan Riski.
Pak Mangku duduk di kursi pendek teras rumahnya, mengawasi sambil menyeruput kopi.
“Ini,” kata Bu Tini, menunjuk pot-pot itu, “biar kalian gemati.”
“…gemati?” Riski mengangkat alis.
“Gemati itu penuh perhatian, telaten, ngopeni.” Bu Tini memberi penjelasan seperti guru PKK-Pendidikan Kesejahteraan Keluarga pada kurikulum pendidikan tahun 1994.
“Oh…” Leli dan Riski mengangguk bersamaan.
“Calon istri harus bisa.” Bu Tini tersenyum bangga.
“…aku kan udah jadi istri, Bu.” Leli sedikit merajuk.
“Ya makanya dilatih.” Bu Tini terkekeh.
“…aku ikut dilatih juga?” Riski berdiri di samping Leli.
“Ya suami juga boleh belajar.” Bu Tini melirik.
“Biar seimbang.” Pak Mangku kemudian ikut nimbrung. Riski mendesah pelan. Bu Tini mulai membagi tugas.
“Ini cabe.”
“Ini sawi.”
“Bayam.”
“Tomat.”
“…itu tomat?” Riski menatap pot kecil.
“Iya ini tomat ceri, seger lho nanti kalau mau bikin salad.” Bu Tini memaparkan seperti penyuluh gizi
“…di bekas kaleng cat minyak bu?” Riski heran
“Udah dibersihkan itu udah nggak ada sisa cat-nya, asal rutin dirawat pasti hidup” Bu Tini berjongkok sambil menancapkan bibit cabe di pot yang masih berisi media tanam.
“Kalau rajin, sebulan lagi panen.” Imbuhnya.
“…optimis ya bu?” Riski mengangguk.
“Disiram berapa kali, Bu?” Leli ikut jongkok.