Waktu berlalu begitu cepat. Januari datang tanpa basa-basi. Hujan turun seperti punya dendam pribadi tiada henti bertubi-tubi setiap hari.
Bukan hujan yang romantis yang bikin orang ingin berdiri di jendela sambil memeluk cangkir teh panas melainkan hujan yang mengguyur tanpa jeda, siang dan malam, seolah langit di atas kampung Iromejan lupa cara berhenti menangis. Apalagi ini Jogja, kota yang pantai dan gunungnya berdekatan, jadi sudah biasa kalau di kota ini beda perempatan beda cuaca. Pernah ketika Riski berangkat kerja dengan jas hujan tapi saat akan sampai kantor kering kerontang yang membuatnya tampak salah kostum.
Dari ujung gang Iromejan, suara derai Sungai Belik terdengar berbeda, lebih berat, lebih deras, seperti menggerutu.
Riski berdiri di depan rumah barunya yang menghadap tepat ke rumah Pak Mangku Singo Dimejo. Ia masih mengenakan kaos rumahan, celana pendek, dan sandal jepit yang sudah basah separuh. Pandangannya tertuju pada air cokelat keruh yang mulai merayap di sela-sela paving gang.
Leli berdiri di belakangnya, memeluk lengan sendiri.
“Naik lagi?” tanyanya pelan, nada suaranya campuran cemas dan berharap jawaban suaminya menenangkan.
“Iya. Tadi cuma selokan, sekarang udah nyentuh pinggir gang.” Riski mengangguk, bibirnya menipis. Leli menghela napas.
Di Seberang, pintu rumah Pak Mangku terbuka. Sosok lelaki enam puluh lima tahun itu muncul dengan jas hujan transparan yang agak kekecilan, membuat lengannya terlihat menggembung seperti sosis. Di kepalanya bertengger caping plastik entah beli di mana yang miring ke kiri. Bu Tini mengikuti dari belakang sambil membawa ember, mukanya tegang.
Pak Mangku berhenti tepat di depan rumahnya sendiri, memandangi air seperti menilai hasil panen. Riski mengambil elah dan menyebrang pelan, air menciprat ke betisnya.
“Pak,” katanya, suaranya dibuat sopan tapi jelas khawatir, “ini kayaknya nggak aman.”
Pak Mangku melirik sebentar ke arah genangan, lalu kembali menatap lurus ke ujung gang.
“Belum,” jawabnya singkat.
“Airnya udah masuk gang, Pak.” Riski berkedip.
“Baru gang.” Pak Mangku mendengus kecil, seperti sapi tua yang malas berdiri.
“…Pak, definisi ‘baru’ itu relatif” Riski menahan diri untuk tidak tertawa kecut.
“Bapakmu ini keras kepala. Tapi ya… emang kampung sini udah biasa banjir.” Bu Tini yang sejak tadi diam ikut nimbrung.
Pak Mangku mengangguk mantap, seolah itu Tindakan pamungkas. Malamnya, hujan makin menggila. Air kini setinggi mata kaki. Motor-motor warga diparkir miring di teras. Anak-anak digendong. Emak-emak teriak dari rumah ke rumah.
Riski menenteng tas ransel berisi baju seadanya. Leli membawa kantong plastic berisi dokumen dan charger.
“Sayang,” kata Riski sambil melirik air yang makin keruh, “kita ngungsi aja ke Bantul.”
“Aku setuju.” Leli mengangguk cepat. Mereka menyeberang lagi ke rumah Pak Mangku.
Pak Mangku berdiri di ambang pintu, tangan dilipat di dada, wajahnya serius seperti kepala posko darurat.
“Pak… Bu… ayo ikut,” kata Riski.
“Ora usah, kalian aja” Pak Mangku menggeleng tegas.
“…Pak.” Riski menghela napas.
“Ini kampung saya.” P{ak Mangku bersikeras
“Bapakmu ini udah kayak juru kunci Iromejan.” Bu Tini menimpali sambil nyengir tipis, setengah bangga.
“Kalau saya pergi, siapa yang ngawasi?” Pak Mangku mengangguk puas.
“…banjirnya?” Riski melirik air di kaki mereka.