Mertua Adalah Mawut

Ardhi Widjaya
Chapter #9

Rapat RT: Drama Keluarga

Gang Iromejan mulai kembali ke ritmenya setelah banjir reda. Air banjir sudah surut, meninggalkan lumpur tipis di sela paving dan aroma anyir yang masih setia menempel di tembok rumah. Warga sibuk menyiram halaman, menjemur kasur, dan mengelap motor sambil saling pamer seberapa tinggi air sempat masuk ke ruang tamu.

Sore itu, suara kentongan dipukul bertalu-talu. Tong. Tong. Tong.

Di ujung gang, pak Mangku Singo Dimejo berdiri sambil membawa pengeras suara portable entah sejak kapan benda itu menjadi property barunya,

“Pengumuman!” teriaknya dengan nada resmi. “Malam ini rapat RT khusus bapak-bapak di rumah saya. Wajib hadir!”

Riski yang sedang menyapu halaman depan rumahnya berhenti. Ia menoleh ke Leli.

“…kalau bapak sudah pakai toa, itu tandanya ada tumbal nih hehe.”

“Kamu merasa terpanggil?” Leli tersenyum tipis.

“Belum.” Riski mengangkat bahu

“Biasanya yang bilang ‘belum’ itu sebentar lagi.” Leli mengangkat alis.

Malamnya, teras rumah Pak Mangku disulap jadi ruang rapat darurat. Tikar digelar di dalam rumah. Lampu bohlam putih menyala terang, bikin keringat gampang keluar. Yang duduk semuanya bapak-bapak. Ada yang sekadar pakai kaos oblong dan sarung, ada yang datang sambil bawa rokok. Ada yang langsung rebahan di tikar seolah mau nonton pertandingan bola.

Bu Tini dan dibantu dua ibu lain dan Leli hanya mondar-mandir di pinggir, mengantar the panas dan gorengan.

“Ini jangan habis semua, nanti bapak-bapak yang belakang nggak kebagian,” omel Bu Tini sambil menaruh nampan. Pak Mangku duduk bersila di deretan paling tengah, di hadapannya sudah ada meja kecil dengan taplak batik ciri khas kantor kelurahan dan di atasnya sudah ada map tebal, buku tulis, dan… sebuah palu kayu kecil.

Riski duduk di barisan tengah, Ia merasa aman, terlalu nyaman sampai pak Mangku mengangkat suara.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab para bapak-bapak serempak.

“Sehubungan dengan Pak Yanto, sekretaris RT kita, yang pindah ke Kalimantan mengikuti anaknya…”

Beberapa orang mengangguk.

“Oh iya…”

“Pantas.”

Riski ikut mengangguk, sambil meniup the. Sampai Pak Mangku melanjutkan.

“Karena itu, kita perlu sekretaris RT baru.”

Riski masih menatap kosong ke gelasnya.

Pak Mangku menoleh lurus ke arahnya.

“Saya usulkan… Mas Riski.”

“Uhuk—” Riski tersedak, beberapa kepala langsung menoleh. Leli yang tadi ikut menghidangkan the kini sudah tidak tampak. Area kosong setengah meter di sebelahnya terasa menghakimi.

“Pak…” Riski membuka mulut.

“Tunggu.” Pak Mangku mengangkat tangan.

Lalu ke warga, “Menantu saya.”

Riski memijat pelipis.

Lihat selengkapnya