Hari Minggu biasanya adalah hari mindful bagi Riski. Hari tanpa alarm. Hari pakai kaos belel. Hari minum kopi sambil bengong tanpa rasa bersalah. Pagi itu, Riski duduk di kursi plastik di depan rumah, kaki selonjoran, satu tangan memegang gelas kopi hitam, tangan satunya menggulir ponsel tanpa tujuan. Udara masih lembab sisa hujan semalam, gang Ngebut Benjut tampak tenang, terlalu tenang untuk ukuran tempat tinggalnya sejak menikah.
Leli berdiri beberapa langkah di depannya, menyapu halaman sempit sambil sesekali menghela napas karena debu basah menempel di sapu.
“Rasanya aneh,” gumam Riski tanpa menoleh.
“Apa?” tanya Leli.
“Hari Minggu… tapi nggak ada yang nyuruh apa-apa.”
“…jangan ngomong gitu.” Leli berhenti menyapu.
“Kenapa?” Riski mengernyit.
“Biasanya habis itu kejadian.” Leli memperingatkan
Riski baru mau tertawa, “Ki… Riski!” Suara itu datang dari rumah Seberang.
Riski menoleh pelan. Pak Mangku Singo Dimejo berdiri di depan rumahnya dengan kaos oblong putih yang agak menguning di ketiak, celana training, dan sandal jepit tebal. Di tangan kirinya ada kantong plastik hitam di tangan kanan. Tampaknya dia sudah siap senyum khas orang mau pinjam sesuatu.
“…tuh.” Riski langsung mendesah pelan. Leli menahan senyum. Pak Mangku menyebrang cepat.
“Motormu bisa dipinjam?”
“Buat apa, Pak?” Riski refleks melirik motornya yang terparkir rapi di samping rumah.
“Mau ke toko sebentar.” Jawabnya
“…berapa lama ya pak?” Riski menatap wajah mertuanya.
“Ah, nggak lama.” Pak Mangku mengibaskan tangan.
Riski melirik Leli. Leli mengangkat bahu kecil. Riski lalu mengambil dan menyerahkan kunci pada bapak mertuanya.
“Jangan lama-lama pak, soalnya aku sama Leli mau ada acara ke luar.” Riski mencari alasan.
“Tenang.” Pak Mangku tersenyum lebar. Lalu berteriak ke ujung gang. “Tok!”
Totok muncul tergopoh-gopoh, kaosnya bertuliskan Air Isi Ulang Murah & Amanah, handuk kecil melingkar di leher.
“Iya, Pak?” Jawab Totok, pegawai kios pak Mangku.
“Kamu pakai motornya Mas Riski.”
“Yang ini?” Totok menoleh ke motor.
“Iya.” Pak Mangku menegaskan.
“…Pak.” Riski menegakkan badan ingin menyampaikan sesuatu tapi tertahan.
Pak Mangku sudah berjalan pergi. Totok tersenyum kikuk.
“Sebentar aja, Mas.”
Motorpun dinyalakan dan pergi melaju bersama Totok.
Riski menatap kosong, ada perasaan kurang enak dibalik kata cuma sebentar.
Dua jam kemudian, motor belum kembali. Riski mondar-mandir di depan rumah. Leli duduk di kursi.
“Kok lama.” Riski menatap ujung gang.