Mertua Adalah Mawut

Ardhi Widjaya
Chapter #11

Malam Punggahan

 Menjelang Ramadan 2 hari lagi, udara Jogja berubah lebih syahdu. Bukan Cuma soal cuaca. Tapi suasana. Orang-orang mulai beli kolang-kaling, sirup, dan spanduk bertuliskan Marhaban Ya Ramadanmuncul di ujung-ujung gang. Sore itu, Pak Mangku berdiri di depan rumah sambil melipat sarung.

“Besok kita nyadran ke Tempel,” katanya tegas. Nada suaranya bukan mengajak, Lebih seperti menetapkan. Riski yang sedang membuka laptop langsung menoleh.

“Tempel, Pak?” tanyanya hati-hati, mencoba memastikan ini bukan Tempel dalam arti metaforis. Wajahnya menunjukkan ekspresi setengah siap, setengah waspada.

“Ya. Makam Trah Singo Dimejo,” jawab Pak Mangku mantap, dadanya sedikit membusung saat menyebut nama trah. Ada kebanggaan yang terasa seperti gelar bangsawan tak resmi.

Leli yang duduk di samping Riski ikut menyahut, “Di Sleman, kan Pak? Yang deket Magelang itu?” suaranya lembut, tapi jelas ingin memastikan jarak tempuhnya.

Pak Mangku mengangguk. “Wilayah Kecamatan Tempel. Perbatasan Magelang. Leluhur kita di sana.” Kata kita terdengar jelas. Riski menangkapnya, ia tersenyum tipis.

“Oh… iya Pak,” jawabnya pelan, menyadari bahwa secara administratif ia kini masuk kategori kita, walau darahnya berasal dari Jawa Timur.

Dalam hatinya ia bergumam, Leluhurku nanti habis Lebaran baru dikunjungi… ini jadwalnya beda provinsi.

Keesokan paginya, rombongan kecil berangkat. Mobil sewaan berisi Pak Mangku, Bu Tini, Leli, dan Riski. Sepanjang jalan, Pak Mangku bercerita silsilah keluarga tanpa jeda.

“Itu buyut saya punya sawah luas dulu,” katanya sambil menunjuk entah kea rah mana. Tangannya bergerak seperti sedang menunjuk peta tak kasat mata.

Riski mengangguk-angguk, mencoba mengikuti, walau pikirannya sudah tersesat di generasi ketujuh.

“Yang itu udah punya kerabat yang sekarang pindah ke Muntilan,” lanjut Pak Mangku, suaranya penuh keyakinan.

“Oh…” Riski menjawab pendek, ekspresinya seperti mahasiswa yang salah masuk kelas. Di dalam hati ia bertanya, Kalau ada ujian lisan, aku remedial nggak ya?

Makam di Tempel terasa teduh. Pohon besar menaungi area nisan-nisan tua yang tampak sudah miring. Pak Mangku berdiri di depan pusara keluarga dengan khidmat.

Lihat selengkapnya