Pada akhir pekan yang cukup panjang setelah lebaran, di suatu pagi-nya cahaya matahari menyelinap pelan lewat sela gorden. Leli duduk di tepi ranjang, memandangi benda kecil di tangannya dengan napas tertahan. Test pack itu tampak sederhana, tapi dua garis merah di sana membuat dunia seolah berhenti sejenak.
“Mas…” panggilnya lirih. Suaranya tipis dan bergetar, seperti seseorang yang memanggil dari tepi jurang antara takut dan bahagia. Riski yang sedang menyetrika kemeja berhenti. Uap setrika masih mengepul ketika ia menoleh.
“Iya?” jawabnya santai, belum menyadari bahwa hidupnya akan naik level permanen.
“Kayaknya… kita naik level.” Leli mengangkat test pack itu. Senyumnya kecil, matanya berkaca-kaca. Ia tampak ingin tertawa tapi juga ingin menangis.
Riski mendekat pelan. “Dua garis?” tanyanya hati-hati, suaranya tercekat seperti orang membaca hasil tes CPNS.
“Iya.” Leli mengangguk. Lalu hening sejenak. Riski menatap benda itu lama sekali.
“Kita… jadi orang tua?” katanya lirih, ekspresinya campur aduk antara bangga, panik, dan terharu.
“Iya, Mas.” Leli tertawa kecil di tengah air mata.
Riski langsung memeluknya erat. Pelukan itu awalnya canggung, lalu menguat, seperti ia sedang mencoba menerima kenyataan dengan seluruh tubuhnya. Di luar kamar, suara sendok beradu dengan piring terdengar. Kedua mertua memang rencana sarapan di rumah Leli dan Riski. Pak Mangku sedang sarapan, belum tahu berita besar sedang bersiap menghampirinya.
Di ruang makan, Leli duduk dengan wajah masih sembab tapi berseri.
“Pak…Bu…” katanya pelan.
Nada suaranya lembut, tapi ada getaran penting di dalamnya.
Pak Mangku mengangkat kepala. “Ada apa?” tanya pak Mangku, suara sendoknya berhenti di udara.
“Leli hamil, Pak.” Riski menarik napas panjang. Kalimat itu jatuh di meja makan seperti pengumuman resmi.
Pak Mangku membeku. “Serius?” tanyanya pelan, matanya membesar.
Leli mengangguk.
“Iya, Pak.”
Pak Mangku berdiri mendadak sampai kursinya bergeser. “Alhamdulillah!” serunya keras, wajahnya langsung berubah cerah seperti lampu dinyalakan mendadak.
Bu Tini muncul dari dapur. “Apa sih kok pada rame?” tanyanya, alisnya berkerut.
“Cucu!” jawab Pak Mangku bangga, dadanya membusung seperti baru saja memenangkan lomba tingkat nasional.
Bu Tini menutup mulutnya, lalu tersenyum lebar. “MasyaAllah…” katanya pelan, matanya langsung berkaca-kaca.
Pak Mangku mendekati Leli. “Kamu harus jaga diri. Jangan capek. Jangan sembarangan makan,” katanya cepat, nadanya berubah protektif.
“Iya, Pak.” Leli tersenyum patuh. Di balik senyum itu, Riski sudah bisa merasakan satu hal: Pak Mangku akan jadi overprotektif kelas berat.